Rabu, 23 September 2015

Pohon Kematian

Pohon Kematian
Aku terdiam di sebuah ruangan yang sangat luas dan dingin. Hanya ada aku dan beberapa kursi kosong di pojok ruangan. Dimanakah aku sekarang? Ku hembuskan nafasku berat, berharap ada seseorang yang hadir di sini selain aku. Aku berjalan ke arah kursi kosong menenangkan pikiranku yang sedari tadi berfikiran negative. Udara yang keluar dari AC dalam ruangan ini membuatku menggigil. Aku memandang pintu masuk yang ada di sampingku, di atasnya tertulis “Selamat Datang”. Tulisan dengan font Jonkerman yang ku perdebatkan dengan Lila seminggu yang lalu. Tak salah lagi, aku sedang berada di aula sekolah. Tapi, aula ini masih dalam masa pengerjaan dan akan selesai sebulan lagi. Bagaimana aku bisa berada di sini?
Tok! tok! tok! Aku tersentak mendengar suara jendela ada yang mengetuk. Sontak aku menoleh dan mendapati sebuah tulisan “Keluarlah”. Aku segera berlari menuju keluar ruangan berharap menemukan orang yang membuat tulisan itu di jendela.
“Hai, Arlita. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Joji tepat di telingaku. Sontak, aku menoleh dan mendapati Joji sedang tersenyum padaku. Aku mengangguk  dan mengikuti langkah Joji. Entah kemana dia akan melangkah, aku akan selalu mengikutinya.
Joji membawaku ke sebuah bukit yang ada di seberang sekolah. Aku tak pernah ke bukit ini sebelumnya karena ku pikir bukit ini berisi pohon-pohon tua yang menyeramkan. Gelapnya malam menambah angker suasana di bukit ini, aku menggandeng lengan Joji karena aku takut dengan suasana seperti ini.
“Jo, kita mau kemana? Kita tak boleh memasuki kawasan bukit ini,” ucapku sambil menahan lengan Joji supaya ia tak meneruskan langkahnya. Namun terlambat, aku dan Joji sudah ada di puncak bukit. Aku baru tahu kalau di puncak bukit ini ada sebuah pohon besar dengan lubang di tengahnya seperti sebuah portal untuk masuk ke sebuah tempat. Satu fakta yang sangat mengejutkan, ternyata di dahan-dahan pohon terdapat foto-foto yang diletakkan dalam bingkai. Aku tak mengenal siapa saja orang yang ada dalam foto-foto tersebut.
Bruk! Sebuah bingkai jatuh ke tanah. Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah Lila yang ada dalam bingkai tersebut. Aku mencoba menetralkan debaran jantungku, namun aku tak kuasa. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat foto siapa saja yang tergantung. Di sana ada foto Vero,Andi, Naufal dan masih banyak foto yang tak ku kenal. Jantungku malah semakin berdebar cepat dan kepanikanku tak bisa di sembunyikan lagi
“Tenang Arlita, kau akan baik-baik saja jika kau mendengar semua penjelasanku dan menuruti semua perintahku,” kata Joji sambil tersenyum. Senyumannya kali ini beda dengan senyuman yang biasa ia sunggingkan di sekolah. Aku tak tahu harus berkata apa, yang jelas sekarang aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Belum sempat aku berlari, tanganku sudah dicekal Joji.
“Jo, biarkan aku pulang. Aku tak ingin terlibat dalam permainanmu,” ucapku dengan air mata yang berlinang.
“Kau sudah terlambat Arlita. Sekarang kau boleh memilih, mau mengikuti permainanku atau kau akan masuk ke dalam lubang itu dan takkan kembali. Pilih yang mana?” ucap Joji mengintimidasiku. Aku bingung harus berkata apa, aku tak mau masuk ke dalam lubang itu dan tak mau mengikuti perintah Joji yang belum ku ketahui.
“Baiklah, aku memilih pilihan pertama,” ucapku pelan nyaris seperti bisikan.
“Terima kasih Arlita yang cantik. Pertama aku akan menjelaskan tentang tempat ini. Namun, karena kau tadi mencoba untuk lari dariku maka kau pantas mendapatkan ini,” ucap Joji sambil mendorong tubuhku masuk ke dalam lubang yang ada di pohon itu. Apa maksudnya dia melakukan ini? Aku tak dapat berbuat apa-apa selain berteriak dan menutup mataku.
“Mama! Tolong aku! Aaaaa,” teriakku lantang berharap mama akan datang menolongku.
Plak! Sebuah benda mengenai kepalaku, rasanya sakit sekali. Aku membuka mataku dan sekarang yang ku lihat adalah tatapan tajam dari Pak Guru. Untunglah kali ini aku hanya bermimpi, tapi aku yakin mimpi itu menuntunku kepada suatu hal yang akan terjadi di masa depan.
“Arlita kenapa? Hahahah mimpi buruk ya? makanya jangan tidur di kelas,” tawa Vero memecahkan keheningan. Aku hanya bisa tersenyum kikuk menanggapinya.
“Arlita, silahkan cuci muka dan jangan masuk ke kelas ini sampai pelajaran saya selesai,” kata Pak Guru. Aku hanya bisa menurut dan keluar dari kelas. Sebelum aku keluar, aku melihat Joji yang tak berekspresi. Aku penasaran dengan sikapnya di sekolah yang selama ini tertutup. Apa ada yang disembunyikan olehnya?
Setelah mencuci muka, aku pergi ke kantin untuk makan siang. Lumayan dapat jam istirahat tambahan dan itu takkan ku sia-siakan. Kantin terasa sepi saat jam-jam seperti ini, itu artinya aku tak perlu berdesak-desakkan untuk makan siang.
“Arlita! Kau malah ke kantin di saat-saat seperti ini? Kau sudah dengar berita belum? Oke, sepertinya belum. Si Vero kejatuhan lampu dan kepalanya bocor,” ucap Andi dan sukses membuatku terkejut. Apa ini ada hubungannya dengan foto Vero yang tergantung di pohon besar itu? Ah, sepertinya tidak, mungkin saja lampu itu jatuh karena penyangganya yang sudah tua. Aku segera berlari menuju UKS untuk melihat keadaan Vero.
Namun, aku terlambat. Ternyata Vero sudah dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang parah.
“Ar, kau tahu penyebab kejadian ini? Sepertinya ini berhubungan dengan pohon berlubang di atas bukit,” ucap Andi. Aku tercengang mendengar ucapannya. Apa Andi pernah mengalami mimpi yang sama denganku?
“Aku yakin, pasti tadi kau di kelas bermimpi tentang pohon berlubang itu kan? Aku juga pernah memimpikan itu. Waktu itu di atas pohon ada foto Syelvi, dua hari setelah mimpi itu Syelvi kecelakaan dan meninggal. Aku yakin kejadian itu ada hubungannya dengan mim-“ perkataan Andi terpotong karena ada sebuah pisau mendarat dengan mulus di punggungnya. Aku menoleh ke belakang mencari siapa yang melempar pisau itu, namun hasilnya nihil. Aku tak menemukan siapa-siapa karena ini masih jam pelajaran.
“Andi, Andi bangun kau belum selesai bercerita,” tangisku pecah saat melihat Andi tak berdaya seperti ini. Guru-guru dan anggota PMR datang dan segera melarikan Andi ke rumah sakit. Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Ya, aku harus bertemu dengan Joji dan meminta penjelasan. Aku tak ingin Naufal dan Lila menjadi korban berikutnya.
Aku menemukan Joji di sudut ruang kelas, dengan obat yang berserakan di sekitarnya. Apa yang sedang dilakukan Joji? Apa dia akan memakan semua pil itu? Aku mendekatinya dan mencoba untuk berbicara padanya dari hati ke hati.
“Jo, apa yang kau lakukan? Apa selama ini kau memakan obat-obatan ini?” tanyaku perlahan tak ingin membuat Joji panik.
“Arlita, bantu aku. Bantu aku untuk hilang dari muka bumi ini. Aku sudah tak tahan melihat teman-temanku menjadi korban satu persatu dari pohon berlubang itu,” ucap Joji dengan suara yang bergetar. Aku semakin tak mengerti dengan situasi ini, ku pikir Joji yang melukai Vero dan Andi.
“Aku akan terbebas dari semua perjanjian, jika aku menemukan penggantiku,” kata Joji dengan suara yang lemah.
“Kau harus menjadi penggantiku. Pengganti untuk memasang foto orang-orang di dahan pohon itu, aku sudah tak tahan dengan semua ini. Ku pikir aku akan bahagia jika aku melakukan ini semua, tapi itu justru salah. Kau harus menggantikanku,” kata Joji pelan.
Aku berlari keluar kelas mencari Lila dan Naufal, karena tadi di mimpiku aku melihat foto mereka. Tak butuh waktu lama, aku melihat Naufal sedang memantul-mantulkan bola basket di pinggir lapangan. Aku segera berlari menghampirinya.
“Naufal, apa kau melihat Lila? Kau tak boleh sendirian, ayo ikut aku mencari Lila,” ajakku, dapat ku pastikan sekarang ia dalam kondisi bingung. Aku mencari keberadaan Lila untuk menyelamatkannya dari kematian.
Namun, terlambat. Sekarang aku di sini bersama Naufal terpaku melihat seorang gadis yang wajahnya dipenuhi darah  dan gadis itu adalah Lila.
Bersambung

By Devi Kumala


0 komentar:

Posting Komentar