Pohon Kematian
Aku terdiam di sebuah ruangan yang
sangat luas dan dingin. Hanya ada aku dan beberapa kursi kosong di pojok
ruangan. Dimanakah aku sekarang? Ku hembuskan nafasku berat, berharap ada
seseorang yang hadir di sini selain aku. Aku berjalan ke arah kursi kosong
menenangkan pikiranku yang sedari tadi berfikiran negative. Udara yang keluar
dari AC dalam ruangan ini membuatku menggigil. Aku memandang pintu masuk yang
ada di sampingku, di atasnya tertulis “Selamat Datang”. Tulisan dengan font
Jonkerman yang ku perdebatkan dengan Lila seminggu yang lalu. Tak salah lagi,
aku sedang berada di aula sekolah. Tapi, aula ini masih dalam masa pengerjaan
dan akan selesai sebulan lagi. Bagaimana aku bisa berada di sini?
Tok!
tok! tok! Aku tersentak mendengar suara jendela ada yang mengetuk. Sontak
aku menoleh dan mendapati sebuah tulisan “Keluarlah”. Aku segera berlari menuju
keluar ruangan berharap menemukan orang yang membuat tulisan itu di jendela.
“Hai, Arlita. Aku ingin mengajakmu
ke suatu tempat,” ucap Joji tepat di telingaku. Sontak, aku menoleh dan
mendapati Joji sedang tersenyum padaku. Aku mengangguk dan mengikuti langkah Joji. Entah kemana dia
akan melangkah, aku akan selalu mengikutinya.
Joji membawaku ke sebuah bukit yang
ada di seberang sekolah. Aku tak pernah ke bukit ini sebelumnya karena ku pikir
bukit ini berisi pohon-pohon tua yang menyeramkan. Gelapnya malam menambah
angker suasana di bukit ini, aku menggandeng lengan Joji karena aku takut
dengan suasana seperti ini.
“Jo, kita mau kemana? Kita tak
boleh memasuki kawasan bukit ini,” ucapku sambil menahan lengan Joji supaya ia
tak meneruskan langkahnya. Namun terlambat, aku dan Joji sudah ada di puncak
bukit. Aku baru tahu kalau di puncak bukit ini ada sebuah pohon besar dengan lubang
di tengahnya seperti sebuah portal untuk masuk ke sebuah tempat. Satu fakta
yang sangat mengejutkan, ternyata di dahan-dahan pohon terdapat foto-foto yang
diletakkan dalam bingkai. Aku tak mengenal siapa saja orang yang ada dalam
foto-foto tersebut.
Bruk!
Sebuah bingkai jatuh ke tanah. Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah Lila
yang ada dalam bingkai tersebut. Aku mencoba menetralkan debaran jantungku,
namun aku tak kuasa. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat foto siapa saja
yang tergantung. Di sana ada foto Vero,Andi, Naufal dan masih banyak foto yang
tak ku kenal. Jantungku malah semakin berdebar cepat dan kepanikanku tak bisa
di sembunyikan lagi
“Tenang Arlita, kau akan baik-baik
saja jika kau mendengar semua penjelasanku dan menuruti semua perintahku,” kata
Joji sambil tersenyum. Senyumannya kali ini beda dengan senyuman yang biasa ia
sunggingkan di sekolah. Aku tak tahu harus berkata apa, yang jelas sekarang aku
ingin berlari menjauh dari tempat ini. Belum sempat aku berlari, tanganku sudah
dicekal Joji.
“Jo, biarkan aku pulang. Aku tak
ingin terlibat dalam permainanmu,” ucapku dengan air mata yang berlinang.
“Kau sudah terlambat Arlita.
Sekarang kau boleh memilih, mau mengikuti permainanku atau kau akan masuk ke
dalam lubang itu dan takkan kembali. Pilih yang mana?” ucap Joji
mengintimidasiku. Aku bingung harus berkata apa, aku tak mau masuk ke dalam
lubang itu dan tak mau mengikuti perintah Joji yang belum ku ketahui.
“Baiklah, aku memilih pilihan
pertama,” ucapku pelan nyaris seperti bisikan.
“Terima kasih Arlita yang cantik.
Pertama aku akan menjelaskan tentang tempat ini. Namun, karena kau tadi mencoba
untuk lari dariku maka kau pantas mendapatkan ini,” ucap Joji sambil mendorong
tubuhku masuk ke dalam lubang yang ada di pohon itu. Apa maksudnya dia
melakukan ini? Aku tak dapat berbuat apa-apa selain berteriak dan menutup
mataku.
“Mama! Tolong aku! Aaaaa,” teriakku
lantang berharap mama akan datang menolongku.
Plak! Sebuah benda mengenai
kepalaku, rasanya sakit sekali. Aku membuka mataku dan sekarang yang ku lihat
adalah tatapan tajam dari Pak Guru. Untunglah kali ini aku hanya bermimpi, tapi
aku yakin mimpi itu menuntunku kepada suatu hal yang akan terjadi di masa
depan.
“Arlita kenapa? Hahahah mimpi buruk
ya? makanya jangan tidur di kelas,” tawa Vero memecahkan keheningan. Aku hanya
bisa tersenyum kikuk menanggapinya.
“Arlita, silahkan cuci muka dan
jangan masuk ke kelas ini sampai pelajaran saya selesai,” kata Pak Guru. Aku
hanya bisa menurut dan keluar dari kelas. Sebelum aku keluar, aku melihat Joji
yang tak berekspresi. Aku penasaran dengan sikapnya di sekolah yang selama ini
tertutup. Apa ada yang disembunyikan olehnya?
Setelah mencuci muka, aku pergi ke
kantin untuk makan siang. Lumayan dapat jam istirahat tambahan dan itu takkan
ku sia-siakan. Kantin terasa sepi saat jam-jam seperti ini, itu artinya aku tak
perlu berdesak-desakkan untuk makan siang.
“Arlita! Kau malah ke kantin di
saat-saat seperti ini? Kau sudah dengar berita belum? Oke, sepertinya belum. Si
Vero kejatuhan lampu dan kepalanya bocor,” ucap Andi dan sukses membuatku
terkejut. Apa ini ada hubungannya dengan foto Vero yang tergantung di pohon
besar itu? Ah, sepertinya tidak, mungkin saja lampu itu jatuh karena
penyangganya yang sudah tua. Aku segera berlari menuju UKS untuk melihat
keadaan Vero.
Namun, aku terlambat. Ternyata Vero
sudah dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang parah.
“Ar, kau tahu penyebab kejadian
ini? Sepertinya ini berhubungan dengan pohon berlubang di atas bukit,” ucap
Andi. Aku tercengang mendengar ucapannya. Apa Andi pernah mengalami mimpi yang
sama denganku?
“Aku yakin, pasti tadi kau di kelas
bermimpi tentang pohon berlubang itu kan? Aku juga pernah memimpikan itu. Waktu
itu di atas pohon ada foto Syelvi, dua hari setelah mimpi itu Syelvi kecelakaan
dan meninggal. Aku yakin kejadian itu ada hubungannya dengan mim-“ perkataan
Andi terpotong karena ada sebuah pisau mendarat dengan mulus di punggungnya.
Aku menoleh ke belakang mencari siapa yang melempar pisau itu, namun hasilnya
nihil. Aku tak menemukan siapa-siapa karena ini masih jam pelajaran.
“Andi, Andi bangun kau belum
selesai bercerita,” tangisku pecah saat melihat Andi tak berdaya seperti ini.
Guru-guru dan anggota PMR datang dan segera melarikan Andi ke rumah sakit.
Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Ya, aku harus bertemu dengan Joji dan
meminta penjelasan. Aku tak ingin Naufal dan Lila menjadi korban berikutnya.
Aku menemukan Joji di sudut ruang
kelas, dengan obat yang berserakan di sekitarnya. Apa yang sedang dilakukan
Joji? Apa dia akan memakan semua pil itu? Aku mendekatinya dan mencoba untuk
berbicara padanya dari hati ke hati.
“Jo, apa yang kau lakukan? Apa
selama ini kau memakan obat-obatan ini?” tanyaku perlahan tak ingin membuat
Joji panik.
“Arlita, bantu aku. Bantu aku untuk
hilang dari muka bumi ini. Aku sudah tak tahan melihat teman-temanku menjadi
korban satu persatu dari pohon berlubang itu,” ucap Joji dengan suara yang
bergetar. Aku semakin tak mengerti dengan situasi ini, ku pikir Joji yang
melukai Vero dan Andi.
“Aku akan terbebas dari semua
perjanjian, jika aku menemukan penggantiku,” kata Joji dengan suara yang lemah.
“Kau harus menjadi penggantiku.
Pengganti untuk memasang foto orang-orang di dahan pohon itu, aku sudah tak
tahan dengan semua ini. Ku pikir aku akan bahagia jika aku melakukan ini semua,
tapi itu justru salah. Kau harus menggantikanku,” kata Joji pelan.
Aku berlari keluar kelas mencari
Lila dan Naufal, karena tadi di mimpiku aku melihat foto mereka. Tak butuh
waktu lama, aku melihat Naufal sedang memantul-mantulkan bola basket di pinggir
lapangan. Aku segera berlari menghampirinya.
“Naufal, apa kau melihat Lila? Kau
tak boleh sendirian, ayo ikut aku mencari Lila,” ajakku, dapat ku pastikan
sekarang ia dalam kondisi bingung. Aku mencari keberadaan Lila untuk menyelamatkannya
dari kematian.
Namun, terlambat. Sekarang aku di
sini bersama Naufal terpaku melihat seorang gadis yang wajahnya dipenuhi
darah dan gadis itu adalah Lila.
Bersambung
By Devi Kumala
0 komentar:
Posting Komentar