Sabtu, 12 Maret 2016

Different Side -2-

                Yang manis akan mudah mendatangkan penyakit apalagi jika berlebihan begitu juga kenangan. Manisnya kenangan masa lalu kadang membuat seseorang susah move on sehingga menimbulkan penyakit hati yang berlebihan.
                “Tam, ini coklat buat lo. Semoga lo suka ya” setelah menyerahkan coklat kepada Tama, Elvina segera berlalu tanpa menunggu respon yang akan diberikan Tama. Kapan cewek itu berhenti bersikap manis pada Tama? Sikapnya yang seperti ini membuat Tama semakin terpuruk dengan kenangan masa lalu saat mereka masih berpacaran.
                “Vina! Thanks coklatnya, tapi gue ga mau terima. Gue udah bertekad bakalan move on dari lo.  Tapi kalo lo bersikap kayak gini ke gue, kapan gue bakal move on?” tanya Tama pada Elvina, namun gadis itu hanya tersenyum dan segera berlari meninggalkan Tama. Senyuman itu, senyuman yang selalu membuat Tama merasa bahwa masa depannya yang cemerlang sudah ada di depan mata.
                “Wih, ada yang dapat coklat dari mantan nih. Mitosnya, coklat dari mantan bakal terasa lebih manis dan faktanya coklat dari mantan bakal bikin gagal move on” ucap Rhama dengan nada mengejek.
                “Gue ga bakal makan coklat ini” Tama segera berlari keluar kelas mencari Eka. Ia yakin jika coklat kutukan dari mantan akan lebih pas jika dimakan oleh makhluk seperti Eka. Tak butuh waktu lama untuk mencari Eka, karena makhluk seperti ia pasti berada di tempat-tempat angker contohnya di bawah pohon beringin.
                “Eka! Gue cari lo kemana-mana taunya di sini. Ini buat lo” Tama menyerahkan sebatang coklat kepada Eka.
                “Tumben lo ngasih coklat ke gue. Jangan-jangan di dalamnya ada sianidanya” Eka memicingkan sebelah matanya karena curiga dengan perlakuan Tama.
                “Lo coba sekali aja berpikiran positif tentang gue. Mustahil kalo gue kasih sianida ke dalam coklat, lo liat aja coklatnya masih terbungkus rapi dalam kemasan.” Elak Tama.
                “Terus kenapa lo kasih ke gue?” Eka mencurigai sikap baik Tama. Tidak mungkin lelaki absurd seperti Tama dengan senang hati menyerahkan sebatang coklat untuk makhluk seperti Eka.
“Sebenarnya, itu coklat dari Elvina” Tama menundukkan kepalanya seperti bocah yang ketangkap basah menjahili temannya.
                Eka menghela napasnya panjang, “Pasti Elvina itu mantan lo kan? Dan lo ga mau makan coklat dari dia karena takut gagal move on?” Tanya Eka. “Hahaha, percuma Tam. Sini deh kalo lo ga mau coklatnya” Eka merebut coklat dari tangan Tama dan mulai memakannya seperti orang kelaparan.
                Melihat Eka seperti ini membuat keisengan Tama kumat. Ia mengambil handphone dari sakunya dan memotret Eka. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil sepuluh jepretan sekaligus. Momen langka pikirnya.
**
                Dari Nara (082250xxxxxx)
Ney maaf ya pacar gue minta diantar pulang. Jadi gue harap lo mau nungguin gue, gue janji bakal langsung ke sekolah.
Eka menyesal tak membawa motor sendiri hari ini dan sekarang ia harus menunggu di depan gerbang bersama seorang gadis yang parasnya seperti model. Minder, satu kata yang mampu menggambarkan perasaan Eka. Ia yakin sekarang pasti ia terlihat buruk rupa karena Eka adalah tipe orang yang akan terlihat jelek jika berdampingan dengan orang cantik dan akan terlihat cantik jika berdampingan dengan orang jelek. Ya, itulah Eka yang fisiknya menyesuaikan keadaan.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan kedua gadis yang sedang berdiri dalam diam tersebut. Si pemilik motor membuka kaca helm dan menampilkan sesosok lelaki yang selama ini membuat hati Eka dongkol.
“Tama, gue dari tadi nungguin lo di sini sambil berpanas-panas ria. Gue yakin lo ga bakalan tega ngeliat gue keringetan” ucap Elvina sambil menggenggam lengan Tama.
Tama melepaskan genggaman Elvina secara perlahan, takut gadis yang sudah membuatnya tersenyum bahagia di masa lalu sakit hati. “Sorry Vin, gue mau ngantarin temen gue” ucapnya.
“Temen? Emangnya siapa yang mau temenan sama lo?” Elvina tidak mempercayai perkataan Tama barusan. Namun beberapa detik kemudian ketidakpercayaannya harus dihempaskan jauh-jauh saat Tama menunjuk Eka. Kenyataan yang cukup pahit, Elvina harus merelakan Tama bagaimanapun caranya. Dulu, memang Elvina menjadi prioritas utama bagi Tama namun sekarang keadaannya berbanding terbalik.
“Princess, ayo naik. Gue antar pulang, lo pasti capek berdiri di sini panas-panas” ucap Tama dengan lembut. Eka yang nampak bingung hanya menuruti perintah Tama. Ia sempat melihat sekilas wajah Elvina yang menahan amarah.
Di perjalanan, Eka tak henti-hentinya memikirkan apa yang akan terjadi besok pada dirinya. Kejadian seperti tadi pasti sukses membuat amarah pada diri Elvina membara. Di sekolahnya terdahulu, Eka sempat dilabrak mantan pacar Dion–teman sekelasnya– gara-gara Eka minta diantar pulang selain jalan ke arah rumah mereka yang searah, Dion juga bersahabat dengan Eka sejak kecil. Karena kejadian itu, Eka sempat tak masuk sekolah selama seminggu karena trauma. Eka takut kejadian itu terulang kembali.
“Tam, gue takut cewek tadi ngelabrak gue” lirih Eka. Namun, Tama dapat mendengarnya dengan jelas. Hal itu terbukti dengan cara Tama memberhentikan motornya mendadak sehingga tanpa sengaja Eka mencium bagian belakang helm Tama.
“Vina ga mungkin ngelakuin hal serendah itu. Kalo dia sampai ngelakuin itu, lo tinggal bilang ke gue” Tama mencoba menghilangkan anggapan Eka barusan. Ia sangat yakin Elvina yang dulu bersikap sangat manis takkan pernah berubah menjadi monster seperti apa yang ada di pikiran Eka.
**
Setelah mengantar Eka pulang, Tama segera bergegas untuk menemui Elvina di sekolah. Ia yakin gadis itu belum ada yang menjemput. Ia menepis segala anggapan bahwa mengantar mantan pulang akan menimbulkan efek luar biasa terhadap usahanya untuk move on. Sesampainya di sekolah, Tama terkejut saat melihat Elvina duduk di pinggir gerbang dengan barang-barang yang sudah berhamburan di sekelilingnya. Wajahnya terlihat kacau, rambutnya berantakan dan air mata yang selalu membuat hati Tama teriris kini mengalir kembali.
“Vin, lo kenapa begini? Gue ga suka liat lo lemah, lo harus kuat” ucap Tama sambil membantu Elvina berdiri. Namun, Elvina hanya menatap Tama dengan tatapan kosong. Ia tak bersuara sedikitpun, Tama yang melihat Elvina seperti ini hanya bisa mendengus kesal. “Gue minta maaf. Sekarang gue bakal ngantarin lo pulang” Tama merapikan rambut Elvina yang berantakan dan segera mengemasi barang-barang Elvina yang berhamburan.
“Gue takut, gue takut lo bakal ninggalin gue kayak tadi.” Elvina memeluk Tama dari belakang, tangisnya pecah seketika. Hal inilah yang membuat usaha Tama untuk move on terasa sia-sia jika akhirnya dia tak tega meninggalkan Elvina.
Tama tersenyum miris, gadis yang sedang memeluknya begitu lemah sehingga ia tak tega melukai hatinya. Satu goresan kecil saja bisa membuat gadis ini begitu kacau. Tama bingung harus berbuat apa di satu sisi ia ingin move on tapi di sisi lain ia tak tega melihat Elvina terluka.
“Gue ga akan ninggalin lo, sekarang mending lo ikut gue ke taman soalnya ada yang pengen gue omongin” Tama melepaskan pelukan Elvina yang terkesan posesif.
“Ngomongnya di sini aja” Elvina hendak memeluk Tama lagi, namun Tama segera menghindar.
“Maaf Vin, tapi gue ga bisa gini terus. Gue janji ga akan ninggalin lo, itu bukan berarti gue harus jadi pacar lo lagi. Gue sadar selama kita pacaran banyak banget hal yang hilang dari diri gue, termasuk sahabat gue. Gue mohon  setelah gue bilang begini, lo jangan depresi kayak tadi” Tama memeluk Elvina dengan erat, pelukan terakhir karena Tama sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah ini ia takkan memperdulikan Elvina lagi.
“Lepas!” teriak Elvina. Ia mengambil penggaris segitiga dari dalam tasnya, “Kenapa kita ga bisa kembali seperti dulu? Gue ga sanggup liat lo yang berusaha menghindar dari gue” Elvina hendak menusuk matanya sendiri dengan penggaris segitiga. Namun, Tama segera merebut penggaris itu dan membuangnya jauh-jauh.
“Kalo lo sampe ngelakuin hal itu, gue ga akan segan-segan bawa lo ke rumah sakit jiwa.” Bisik Tama tepat di telinga Elvina.

Elvina memang tak bisa mengontrol emosinya. Ia tak segan-segan melukai tubuhnya sendiri jika ia sedang sakit hati, tak heran jika di dalam kamarnya ada sebuah pelepah pisang yang digunakannya untuk meluapkan semua emosinya dalam bentuk goresan-goresan silet. Bahkan ia pernah ingin memotong lidahnya sendiri karena nilai ulangan fisikanya sangat rendah sehingga mengharuskan ia untuk remedi berkali-kali.

-Bersambung-

Kenapa gue selalu terbayang-bayang fisika saat ngetik cerita ini? Kutukan apa yang telah diberikan fisika kepadaku?

0 komentar:

Posting Komentar