Yang
manis akan mudah mendatangkan penyakit apalagi jika berlebihan begitu juga
kenangan. Manisnya kenangan masa lalu kadang membuat seseorang susah move on
sehingga menimbulkan penyakit hati yang berlebihan.
“Tam,
ini coklat buat lo. Semoga lo suka ya” setelah menyerahkan coklat kepada Tama,
Elvina segera berlalu tanpa menunggu respon yang akan diberikan Tama. Kapan
cewek itu berhenti bersikap manis pada Tama? Sikapnya yang seperti ini membuat
Tama semakin terpuruk dengan kenangan masa lalu saat mereka masih berpacaran.
“Vina!
Thanks coklatnya, tapi gue ga mau terima. Gue udah bertekad bakalan move on
dari lo. Tapi kalo lo bersikap kayak
gini ke gue, kapan gue bakal move on?” tanya Tama pada Elvina, namun gadis itu
hanya tersenyum dan segera berlari meninggalkan Tama. Senyuman itu, senyuman
yang selalu membuat Tama merasa bahwa masa depannya yang cemerlang sudah ada di
depan mata.
“Wih,
ada yang dapat coklat dari mantan nih. Mitosnya, coklat dari mantan bakal
terasa lebih manis dan faktanya coklat dari mantan bakal bikin gagal move on”
ucap Rhama dengan nada mengejek.
“Gue ga
bakal makan coklat ini” Tama segera berlari keluar kelas mencari Eka. Ia yakin
jika coklat kutukan dari mantan akan lebih pas jika dimakan oleh makhluk
seperti Eka. Tak butuh waktu lama untuk mencari Eka, karena makhluk seperti ia
pasti berada di tempat-tempat angker contohnya di bawah pohon beringin.
“Eka!
Gue cari lo kemana-mana taunya di sini. Ini buat lo” Tama menyerahkan sebatang
coklat kepada Eka.
“Tumben
lo ngasih coklat ke gue. Jangan-jangan di dalamnya ada sianidanya” Eka
memicingkan sebelah matanya karena curiga dengan perlakuan Tama.
“Lo
coba sekali aja berpikiran positif tentang gue. Mustahil kalo gue kasih sianida
ke dalam coklat, lo liat aja coklatnya masih terbungkus rapi dalam kemasan.”
Elak Tama.
“Terus
kenapa lo kasih ke gue?” Eka mencurigai sikap baik Tama. Tidak mungkin lelaki
absurd seperti Tama dengan senang hati menyerahkan sebatang coklat untuk
makhluk seperti Eka.
“Sebenarnya, itu coklat dari
Elvina” Tama menundukkan kepalanya seperti bocah yang ketangkap basah menjahili
temannya.
Eka
menghela napasnya panjang, “Pasti Elvina itu mantan lo kan? Dan lo ga mau makan
coklat dari dia karena takut gagal move on?” Tanya Eka. “Hahaha, percuma Tam.
Sini deh kalo lo ga mau coklatnya” Eka merebut coklat dari tangan Tama dan
mulai memakannya seperti orang kelaparan.
Melihat
Eka seperti ini membuat keisengan Tama kumat. Ia mengambil handphone dari
sakunya dan memotret Eka. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil sepuluh jepretan
sekaligus. Momen langka pikirnya.
**
Dari Nara (082250xxxxxx)
Ney
maaf ya pacar gue minta diantar pulang. Jadi gue harap lo mau nungguin gue, gue
janji bakal langsung ke sekolah.
Eka menyesal tak membawa motor
sendiri hari ini dan sekarang ia harus menunggu di depan gerbang bersama
seorang gadis yang parasnya seperti model. Minder, satu kata yang mampu
menggambarkan perasaan Eka. Ia yakin sekarang pasti ia terlihat buruk rupa
karena Eka adalah tipe orang yang akan terlihat jelek jika berdampingan dengan
orang cantik dan akan terlihat cantik jika berdampingan dengan orang jelek. Ya,
itulah Eka yang fisiknya menyesuaikan keadaan.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di
depan kedua gadis yang sedang berdiri dalam diam tersebut. Si pemilik motor
membuka kaca helm dan menampilkan sesosok lelaki yang selama ini membuat hati
Eka dongkol.
“Tama, gue dari tadi nungguin lo di
sini sambil berpanas-panas ria. Gue yakin lo ga bakalan tega ngeliat gue
keringetan” ucap Elvina sambil menggenggam lengan Tama.
Tama melepaskan genggaman Elvina
secara perlahan, takut gadis yang sudah membuatnya tersenyum bahagia di masa
lalu sakit hati. “Sorry Vin, gue mau ngantarin temen gue” ucapnya.
“Temen? Emangnya siapa yang mau
temenan sama lo?” Elvina tidak mempercayai perkataan Tama barusan. Namun
beberapa detik kemudian ketidakpercayaannya harus dihempaskan jauh-jauh saat
Tama menunjuk Eka. Kenyataan yang cukup pahit, Elvina harus merelakan Tama
bagaimanapun caranya. Dulu, memang Elvina menjadi prioritas utama bagi Tama
namun sekarang keadaannya berbanding terbalik.
“Princess, ayo naik. Gue antar
pulang, lo pasti capek berdiri di sini panas-panas” ucap Tama dengan lembut.
Eka yang nampak bingung hanya menuruti perintah Tama. Ia sempat melihat sekilas
wajah Elvina yang menahan amarah.
Di perjalanan, Eka tak
henti-hentinya memikirkan apa yang akan terjadi besok pada dirinya. Kejadian
seperti tadi pasti sukses membuat amarah pada diri Elvina membara. Di
sekolahnya terdahulu, Eka sempat dilabrak mantan pacar Dion–teman sekelasnya–
gara-gara Eka minta diantar pulang selain jalan ke arah rumah mereka yang
searah, Dion juga bersahabat dengan Eka sejak kecil. Karena kejadian itu, Eka
sempat tak masuk sekolah selama seminggu karena trauma. Eka takut kejadian itu
terulang kembali.
“Tam, gue takut cewek tadi
ngelabrak gue” lirih Eka. Namun, Tama dapat mendengarnya dengan jelas. Hal itu
terbukti dengan cara Tama memberhentikan motornya mendadak sehingga tanpa
sengaja Eka mencium bagian belakang helm Tama.
“Vina ga mungkin ngelakuin hal
serendah itu. Kalo dia sampai ngelakuin itu, lo tinggal bilang ke gue” Tama
mencoba menghilangkan anggapan Eka barusan. Ia sangat yakin Elvina yang dulu
bersikap sangat manis takkan pernah berubah menjadi monster seperti apa yang
ada di pikiran Eka.
**
Setelah mengantar Eka pulang, Tama segera
bergegas untuk menemui Elvina di sekolah. Ia yakin gadis itu belum ada yang
menjemput. Ia menepis segala anggapan bahwa mengantar mantan pulang akan
menimbulkan efek luar biasa terhadap usahanya untuk move on. Sesampainya di
sekolah, Tama terkejut saat melihat Elvina duduk di pinggir gerbang dengan
barang-barang yang sudah berhamburan di sekelilingnya. Wajahnya terlihat kacau,
rambutnya berantakan dan air mata yang selalu membuat hati Tama teriris kini
mengalir kembali.
“Vin, lo kenapa begini? Gue ga suka
liat lo lemah, lo harus kuat” ucap Tama sambil membantu Elvina berdiri. Namun,
Elvina hanya menatap Tama dengan tatapan kosong. Ia tak bersuara sedikitpun,
Tama yang melihat Elvina seperti ini hanya bisa mendengus kesal. “Gue minta
maaf. Sekarang gue bakal ngantarin lo pulang” Tama merapikan rambut Elvina yang
berantakan dan segera mengemasi barang-barang Elvina yang berhamburan.
“Gue takut, gue takut lo bakal
ninggalin gue kayak tadi.” Elvina memeluk Tama dari belakang, tangisnya pecah
seketika. Hal inilah yang membuat usaha Tama untuk move on terasa sia-sia jika
akhirnya dia tak tega meninggalkan Elvina.
Tama tersenyum miris, gadis yang
sedang memeluknya begitu lemah sehingga ia tak tega melukai hatinya. Satu
goresan kecil saja bisa membuat gadis ini begitu kacau. Tama bingung harus
berbuat apa di satu sisi ia ingin move on tapi di sisi lain ia tak tega melihat
Elvina terluka.
“Gue ga akan ninggalin lo, sekarang
mending lo ikut gue ke taman soalnya ada yang pengen gue omongin” Tama
melepaskan pelukan Elvina yang terkesan posesif.
“Ngomongnya di sini aja” Elvina
hendak memeluk Tama lagi, namun Tama segera menghindar.
“Maaf Vin, tapi gue ga bisa gini
terus. Gue janji ga akan ninggalin lo, itu bukan berarti gue harus jadi pacar
lo lagi. Gue sadar selama kita pacaran banyak banget hal yang hilang dari diri
gue, termasuk sahabat gue. Gue mohon setelah gue bilang begini, lo jangan depresi
kayak tadi” Tama memeluk Elvina dengan erat, pelukan terakhir karena Tama sudah
berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah ini ia takkan memperdulikan Elvina
lagi.
“Lepas!” teriak Elvina. Ia
mengambil penggaris segitiga dari dalam tasnya, “Kenapa kita ga bisa kembali
seperti dulu? Gue ga sanggup liat lo yang berusaha menghindar dari gue” Elvina
hendak menusuk matanya sendiri dengan penggaris segitiga. Namun, Tama segera
merebut penggaris itu dan membuangnya jauh-jauh.
“Kalo lo sampe ngelakuin hal itu,
gue ga akan segan-segan bawa lo ke rumah sakit jiwa.” Bisik Tama tepat di
telinga Elvina.
Elvina memang tak bisa mengontrol
emosinya. Ia tak segan-segan melukai tubuhnya sendiri jika ia sedang sakit
hati, tak heran jika di dalam kamarnya ada sebuah pelepah pisang yang
digunakannya untuk meluapkan semua emosinya dalam bentuk goresan-goresan silet.
Bahkan ia pernah ingin memotong lidahnya sendiri karena nilai ulangan fisikanya
sangat rendah sehingga mengharuskan ia untuk remedi berkali-kali.
-Bersambung-
Kenapa gue selalu terbayang-bayang fisika saat ngetik cerita ini? Kutukan apa yang telah diberikan fisika kepadaku?
0 komentar:
Posting Komentar