Sabtu, 12 Maret 2016

Different Side

Hitam takkan pernah menjadi putih karena mereka adalah dua sisi yang berbeda. Namun, mereka dapat berdampingan seperti tai cicak. Begitu juga kehidupan, benci dan suka takkan pernah bisa menjadi satu namun bisa berdampingan dalam diri seseorang.
                Kevin ternganga saat melihat Eka mengenakan mini dress selutut dengan motif bunga-bunga, kakinya yang jenjang dibiarkan terbuka, rambutnya yang sedikit ikal digerai seperti artis di iklan sampo dan jangan lupa matanya yang dulu selalu tertutup kacamata sekarang sudah berganti dengan softlens berwarna biru terang.
                Eka mengayunkan tangannya tepat di depan wajah Kevin, “Hello lo kenapa?”
                “Eng, gu-gue cuma takjub ngeliat makhluk Tuhan paling cantik ada di depan gue. Lo bener-bener berubah Ney” ucap Kevin. Ney adalah panggilan akrab dari teman-teman terdekat Eka untuknya. Eka menaikkan sebelah alisnya ia bingung dengan perkataan Kevin barusan, terlebih ini adalah pertemuan mereka yang pertama kalinya setelah empat tahun berpisah. “Ney, gue bingung mesti ngomong apa. Lo bener-bener berubah, lo lebih putih, lebih kurus dan lebih cantik.” Sambung Kevin.
                “Thanks, by the way gue udah kayak orang cina betulan ‘kan?” tanya Eka. Kevin mengangguk dengan semangat.
                Bruk!
                Eka terkejut saat meja yang digunakannya untuk tidur digebrak oleh Tama. Iler yang sudah dia kumpulkan dari satu jam yang lalu nampak mengalir kemana-mana. Tidur adalah salah satu kebiasaan Eka yang sudah sangat melakat pada dirinya. Ia selalu mengisi waktu luangnya dengan tertidur tanpa pernah memperdulikan apa kata orang. Namun, semenjak ia pindah sekolah dan bertemu dengan Tama, tidurnya menjadi tidak setenang dulu. Tama selalu mengganggu tidurnya entah itu tengah malam atau saat jam istirahat seperti ini.
                “Hiii, ngakunya princess tapi nyatanya kebo” ejek Tama. Kesadaran Eka yang belum pulih sepenuhnya membuat dia tak menanggapi ucapan Tama barusan. Ia masih memikirkan mimpinya yang cukup indah jika tidak dibuyarkan begitu saja oleh Tama.
                “Eh Tam, lo berani-beraninya ngerusak mimpi indah gue. Jarang-jarang gue ketemu Kevin di mimpi” Eka melotot ke arah Tama. Kevin adalah cowok idaman Eka, semenjak Eka pindah sekolah ia tak pernah bertemu dengan Kevin. Hanya sosial media yang membuatnya mengetahui kabar Kevin.
                “Oh gara-gara mimpi ketemu Kevin makanya sampe ngiler. Gue gak nyangka ternyata princess berwajah kebo bukan sekedar mitos” ucap Tama sembari meninggalkan Eka yang masih mencerna kata-katanya barusan. Ternyata tidur berdampak terhadap kecepatan dan ketepatan dalam berpikir.
                “Tai lo Tam. Gue ini princess yang antimainstream, emangnya masih jaman princess yang kalem-kalem lebay? Hello sekarang udah 2016 ya” teriak Eka dengan suara yang cukup lantang sehingga membuat seluruh penghuni kelas mulai dari yang nampak sampai yang gaib melihat ke arahnya.
                “Ek, kalau mau teriak ilernya dibersihin dulu dong biar ga muncrat kemana-mana” protes Nabila yang terkena efek dari teriakan Eka. Eka hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejujurnya ia malu jika ditegur secara terang-terangan seperti apa yang dilakukan Nabila.
                **
                Eka menghembuskan napasnya kasar  sepertinya hari ini suasana hatinya sangat kacau karena Tama yang seenak jidat merusak mimpi indah yang sudah lama ditunggu. Bahkan tak ada sedikit penyesalan yang terlihat di wajah lelaki yang sudah beberapa kali membuatnya jengkel.
                “Arrggh, kapan sih bocah kecebong itu berubah? Kelakuannya tadi termasuk tindak kejahatan, kenapa di Indonesia ga ada peraturan tentang larangan merusak mimpi indah orang?” Eka meninju pohon beringin di sampingnya, beberapa detik kemudian ia meringis kesakitan.
                “Eh lo ngapain duduk di sini?” tanya seorang gadis. Gadis itu membawa banyak poster yang tergulung sehingga Eka tak dapat melihat gambar di dalamnya.
                “Lah, emangnya kenapa? Lo penunggu pohon ini? Pantesan pas lo datang gue jadi merinding” Eka bergidik seperti orang merinding, padahal ia tidak merasakan apapun hanya rasa jengkel yang saat ini menyelimuti dirinya. “Gue pergi dulu ya, gue seneng bisa ketemu pohon beringin ini beserta penunggunya. Peluk dan cium dari princess” Eka memanyunkan bibirnya hendak mencium gadis itu namun naluri wanitanya melarang. Gue masih waras ucapnya dalam hati.
                “Princess!” Eka menoleh ke arah gadis itu saat ia merasa bahwa kata princess yang tadi di dengarnya adalah panggilan yang ditujukan untuknya. “Ini untuk lo, mungkin kita baru kenal tapi gue ngerasa kalo lo beda sama teman-teman di kelas gue” gadis itu menyerahkan sebuah gulungan poster yang dibawanya.
                “Thanks. Tapi ini buat apa?” Tanya Eka.
                “Itu cuma tanda pertemanan kita. Gue harap lo mau jadi temen gue, lo boleh datang ke sini setiap jam istirahat. Kita bisa berbagi cerita” gadis itu tersenyum. Ekspresi yang ditunjukkannya sangat berbeda dengan pertama kali mereka bertemu. Ternyata semua orang akan terlihat lebih baik saat tersenyum.
                “Lo ngomong seakan-akan ga ada yang mau temenan sama lo” ketus Eka. Gadis itu kembali tersenyum namun senyumannya kali ini berbeda. Ada rasa sakit yang terlihat bersama senyumannya. Miris, bahkan masih ada orang yang bisa menyembunyikan luka di balik senyuman. “Lo boleh cerita ke gue karena gue termasuk pendengar curhatan terbaik” lanjut Eka.
                “Salah ga sih kalo gue suka sama artis-artis cowok Korea? Teman-teman gue selalu mempersalahkan hal tersebut. Awalnya gue terima namun lama kelamaan gue merasa terasingkan karena imajinasi gue yang ga bisa dikendalikan” gadis itu tertunduk menyembunyikan luka yang semakin mencuat.
                “By the way gue belum tau nama lo. Kenalin gue Eka sang princess akhir zaman yang antimainstream” Eka mencoba menghibur gadis itu dengan perkataan-perkataan aneh dan untungnya gadis itu terhibur.
                “Nama gue Fadia”
                **
                “Nama gue Fadia dan gue adalah penggemar Korea. Suatu saat nanti gue bakal kesana dan menikah dengan salah satu artis Korea” ujar Fadia dengan bangga. Namun tak ada yang menghiraukannya semua seakan sibuk dengan gadget mereka masing-masing.
                “Lo ngapain Fad?” tanya seoarang siswa.
                “Gue memperkenalkan diri gue yang sesungguhnya, gue ga mau jadi orang yang pura-pura suka lagu Barat. Nyatanya gue lebih suka sama K-pop dan gue mohon jangan bully gue karena pengakuan ini” semua siswa yang ada di ruang kelas tersebut menoleh ke arah Fadia.
                “Oh, jadi selama ini ada udang di balik bakwan”
                “Gue ga nyangka kalo selama ini lo pake topeng”
                “Lo ga perlu jadi kayak orang lain kalo nyatanya lo bisa jadi diri lo sendiri”
                “Gue udah terbiasa ditipu sama cowok, tapi baru kali ini ada cewek yang berhasil menipu gue dengan gampang”
                Itulah beberapa kalimat yang masih bisa dicerna oleh otak Fadia selebihnya dia merasa kosong. Kenapa warga di kelasnya tak ada yang menyukai musik yang berbau Korea? Apa salah Korea? Mengapa Korea nampak begitu buruk di mata mereka? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang memenuhi otak Fadia yang kecil.
                “Hello, mohon perhatiannya. Kalian ga perlu bersikap begini setelah tau apa yang sebenarnya. Fadia ga salah karena ini masalah selera. Selera orang beda-beda kalian ga bisa maksa seseorang untuk suka sama suatu hal yang jelas-jelas orang itu tidak menyukainya. Gue sebagai ketua kelas yang adil dan beradab tidak keberatan kalau ada K-popers di kelas ini. Toh ini bukan masalah besar” jelas sang ketua kelas. Lagi dan lagi tak ada yang merespon mereka sibuk dengan gadget mereka lagi.
                “Thanks lo udah ngasih nasehat ke orang-orang batu itu” ucap Fadia sambil berlalu meninggalkan kelas yang cukup hening dibanding kelas-kelas lain. Kelas ribut itu adalah kelas yang sesungguhnya karena murid dalam kelas itu berinteraksi satu sama lain. Namun, mengapa selama ini kelas yang ribut selalu dipandang buruk? Padahal berada di kelas yang terkenal hening lebih menyakitkan karena murid-muridnya tidak peduli satu sama lain.
                Semakin hari banyak murid di kelas Fadia yang tak menyukainya. Tidak menyukai tas Fadia yang dihiasi pin dengan gambar artis Korea, sampai pin-pin yang sudah Fadia beli dengan sisa uang sakunya harus ludes tanpa sepengetahuannya. Untuk menghindari hal-hal seperti itu terulang kembali, Fadia selalu menyembunyikan benda-bendanya yang berbau Korea.
**
                Eka terkejut saat mengetahui kisah yang benar-benar tidak masuk akal itu, “Gue ga nyangka kalo temen-temen sekelas lo aneh bin ajaib begitu”
                “Gue juga bingung,segitu bencinya mereka sama artis Korea. Bahkan ada yang bilang kalo artis cowok Korea kayak banci semua” Fadia terlihat geram.
                “Hahaha udahlah, kalo gue jadi lo gue bakal pindah kelas. Udah orang-orangnya pada kayak batu semua, pake seenak jidat maksa orang buat jadi kayak mereka” Eka mendengus membayangkan kalau dirinya berada di kelas itu. Yang pasti ia takkan betah berlama-lama berada di sana. “Oke gue cabut dulu ya, kalo lo butuh temen curhat tinggal hubungin gue via line ID gue princessekalay.
                Fadia tersenyum, “Thanks udah jadi temen gue”
                “Eka! Gue cari lo kemana-mana taunya di sini. Ini buat lo” Tama menyerahkan sebatang coklat kepada Eka.
                “Tumben lo ngasih coklat ke gue. Jangan-jangan di dalamnya ada sianidanya” Eka memicingkan sebelah matanya karena curiga dengan perlakuan Tama.

                “Lo coba sekali aja berpikiran positif tentang gue. Mustahil kalo gue kasih sianida ke dalam coklat, lo liat aja coklatnya masih terbungkus rapi dalam kemasan. Sebenarnya, itu coklat dari Elvina” jelas Tama.

-Bersambung-

Jangan kapok baca cerita ini ya, walaupun awalnya gaje maksimal tapi gue bakal berusaha bikin part selanjutnya lebih jelas. Part ini juga dibuat karena gue muak sama Remed Fisika yang terus terjadi berulang-ulang. Love you

0 komentar:

Posting Komentar