Sabtu, 03 September 2016

Different SIde 3

               Bunga yang mekar pukul sembilan terlihat sangat indah. Meskipun keindahannya hanya bisa dilihat setiap pukul sembilan, banyak orang yang menyukainya dan merawatnya di halaman. Berbeda dengan Eka, walaupun halaman rumahnya dipenuhi bunga-bunga indah, ia sama sekali tak menikmati keindahan yang dipancarkan bunga-bunga itu. Pikirannya masih tertuju pada kejadian tiga puluh menit yang lalu.
**
                Hari Minggu ini Eka ingin menghabiskan waktunya untuk mencari informasi tentang teman-teman sekelasnya dulu. Tak terasa sudah setahun Eka pindah dari kota yang penuh ketenangan dan harus menetap di kota yang penuh hiruk pikuk. Jujur Eka sangat merindukan tempat tinggalnya dulu, apalagi teman-temannya. Tiba-tiba Rian–adik kesayangannya– melintas begitu saja di depannya dengan membawa gadget. Padahal gue ada di sini, tapi kenapa adek gue ga noleh ke gue?  Batin Eka. Karena penasaran, Eka merebut gadget dari tangan adiknya.
                “Kak balikin dong, aku mau balas chat dari temen tuh” rengek Rian. Eka membalas rengekan Rian dengan pelototan. Beruntung adik satu-satunya yang Eka punya menurut padanya.
                Tanpa ragu Eka membuka aplikasi BBM dan membaca satu persatu chat yang terdapat dalam benda persegi milik adiknya, “Buset dek, lo masih SD udah punya pacar? Gue bilangin mama nih” ancam Eka.
Adiknya merebut benda persegi dari tangan Eka, “Sirik aja sih, dasar jomblo”. Nyess kata-kata yang membuat Eka mengutuk adiknya sendiri.
Via Line
Eka         : Tai, adek gue masih SD udah punya pacar. Gue harus apa?
Aulya     : Lo harus nyari pacar juga -_-
Eka         : Saran lo kurang membantu Au
Eva         : Gue setuju sama Aul, masa lo kalah sama anak SD. Ayo tunjukin kalo lo mampu
Eka         : Sebenernya gue ga jomblo gais
Aulya     : Sini send foto lo sama pacar lo

                Membaca satu persatu pesan dari sahabat-sahabatnya membuat dada Eka sesak. Hanya Eka yang tak memiliki pacar di antara sahabat-sahabatnya. Eka sadar dirinya hanya makhluk buruk rupa yang beruntung bisa mendapatkan sahabat-sahabat yang cantik. Makhluk buruk rupa sepertinya belum pantas memiliki pacar, kecuali ada suatu keajaiban yang bisa membuat Eka memiliki pacar.
Eka         : Eng, gue baru jadian kemarin. Jadi, gue belum ada selfie bareng pacar gue. Udahan dulu ya
  chatnya, gue ada janji (kiss) (love)
               
                Berbohong adalah salah satu cara untuk menyelamatkan harga dirinya dari ejekan. Tak peduli dengan efek yang akan ditimbulkan dari kebohongan itu. Yang terpenting harga dirinya tidak jatuh begitu saja. Terdengar aneh memang, namun inilah kenyataan hidup Eka.
                Eka tersentak dari lamunan saat dering handphone-nya berbunyi. Benda persegi itu menampilkan nama Tama di layarnya.
                “Halo. Lo ngapain nelpon gue? Gue lagi sibuk mikirin masa depan gue dan ga ada waktu buat ngeladenin orang aneh kayak lo” ucap Eka tanpa jeda.
                “Maaf kalo gue ganggu lo. Sekarang gue butuh banget bantuan lo, gue udah ga kuat. Gue tunggu lo di taman sekarang” kata Tama. Suaranya berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia sangat bersemangat namun tadi suaranya terdengar lesu seperti orang tak makan sebulan.
                Sesampainya di taman, betapa terkejutnya Eka saat mendapati Tama persis seperti mayat hidup. Rambut yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan, mata yang sayu dan wajah yang pucat. Eka merasa bingung dan prihatin di saat yang bersamaan.
                “Lo kenapa gini?” Eka meletakkan telapak tangannya di dahi Tama.
                “Gue ga demam” Tama menjawab dengan malas. “Gue bingung harus apa. Gue pengen move on dari Vina. Tapi di sisi lain, Vina terus ngancam gue dengan melakukan hal-hal bodoh yang ga masuk akal”
                Tama yang selalu membuat Eka jengkel sekarang sangat kacau. Tak sedikitpun terlintas di kepala Eka bahwa Tama akan sekacau ini hanya karena wanita. Perlu digarisbawahi hanya karena wanita.  Eka mendengus, matanya menatap Tama lekat-lekat. Lelaki  di sampingnya terlihat lebih– bahkan Eka tak mau melanjutkan pemikirannya yang melenceng hanya karena melihat Tama versi kalem.
                “Hubungan lo rumit banget sih. Mending lo pacaran sama gue biar Elvina itu sadar kalo Tama bukan miliknya lagi” ceplos Eka. Ia tak habis pikir mengapa mulutnya tidak pernah bisa di ajak kompromi. Terlalu ember.
                “Lo nembak gue? Please deh, ini bukan saatnya bercanda” Tama mulai tampak frustasi .
                “Iih, gue serius tau. Lo tau ga? Temen-temen gue pada ngejek gue karena gue masih jomblo. Kan tai. Belum lagi adek gue yang masih SD udah punya pacar. Aaaaaaaa!” Eka berteriak sehingga membuat telinga Tama berdengung.
                “Suara lo kayak dugong. Sakit nih telinga gue. Gue pikir setelah cerita ke orang lain, hati gue bakal adem tapi nyatanya tambah panas. Udahlah, lo bukannya menyelesaikan masalah malah bikin masalah tambah banyak” kesabaran Tama benar-benar diuji sekarang. Ia sudah sangat lelah. Tama beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Eka, namun tangan Eka menggenggam lengannya.
                “Jadi, lo nolak saran gue?”
                Tama menaikkan sebelah alisnya, “jadian sama lo? Ogah, mending gue ke laut”
                “Coba pikir lagi, ini bakal menguntungkan buat kita. Gue jamin selama pacaran sama gue, kesucian lo akan terjaga dengan baik. Gue ga akan ngapa-ngapain lo” ucap Eka dengan penuh keyakinan. “Lagian ini cuma pacaran bohongan”
                Sepertinya saran Eka cukup menarik bagi Tama. Tak ada salahnya ia berpacaran–bohongan–dengan Eka. Toh Eka bukan bagian dari ghoul  yang ada di anime Tokyo Ghoul. “Oke, jadi mulai sekarang kita jadian ya. Tapi bohongan”
                Eka tersenyum puas mendengar jawaban Tama. Dengan sigap ia mengambil sisir dan alat make-up dari tasnya.
                “Lo mau ngapain?” tanya Tama penuh selidik. Ia takut Eka akan mendandaninya seperti boneka Barbie. Eka tak mengacuhkan pertanyaan Tama dan mulai menyisir rambut Tama agar terlihat rapi. Tak lupa ia mengolesi wajah Tama dengan bedak dan bibirnya dengan sedikit lipgloss.
                “Selesai. Sekarang lo udah ga kayak mayat hidup lagi. Sini kita selfie dulu buat dipamerin ke temen-temen gue” Eka nampak sangat bersemangat kali ini. Bahkan ia tak memperdulikan tatapan aneh dari para pengunjung taman.
                Kenangan masa lalu yang coba Tama kubur dalam-dalam mulai menyeruak. Kejadian ini hampir sama seperti dulu.
**
                Tama mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe mencari orang yang sedang menunggunya. Tak seharusnya ia terlambat dan membiarkan orang itu menunggu apalagi orang itu adalah gadis yang sangat ia sayangi.
                “Tama, gue di sini” teriak Elvina dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang, Tama menghampiri Elvina yang sedang duduk sendiri.
                “So…sorry Vin gue telat. Tadi gue ga sengaja ketiduran” ucap Tama terbata-bata karena oksigen belum sepenuhnya mengisi paru-paru.
                Elvina terkekeh mendengar ucapan Tama, “santai aja kali, gue ga kenapa-kenapa kok. Oh iya, ini minuman lo”. Tanpa menunggu aba-aba, Tama meneguk semua isi cairan dalam gelas itu tanpa sisa setetes pun. Melihat tingkah Tama, Elvina lagi-lagi terkekeh, “lo ga takut gue kasih sianida ke dalam minuman lo barusan?”
                “Sianida? Alah, gue ga percaya lo bakal ngasih racun itu ke gue. Yang ada lo ngasih racun cinta ke minuman gue biar gue makin cinta ke lo iya kan? Ngaku deh lo” Tama memicingkan matanya seperti menangkap basah seorang pencuri.
                “Apaan sih lo? Oh iya, penampilan lo hari ini beda banget. Lo keliatan kacau” selidik Elvina.
                “Gue ga sempat dandan” lirih Tama. Elvina mengambil sisir dan bedak dari dalam tasnya dan mulai merapikan penampilan Tama agar terlihat rapi.
                “Selesai. Sekarang kita selfie yuk, kita kan belum pernah selfie” ajak Elvina.
                ***
                Jujur, Tama sangat merindukan sifat Elvina yang apa adanya tanpa ancaman-ancaman konyol. Jika saja Elvina tidak berubah, pasti sekarang yang sedang selfie dengannya adalah Elvina, bukan Eka.


0 komentar:

Posting Komentar