Bunga yang mekar pukul sembilan terlihat sangat indah.
Meskipun keindahannya hanya bisa dilihat setiap pukul sembilan, banyak orang
yang menyukainya dan merawatnya di halaman. Berbeda dengan Eka, walaupun
halaman rumahnya dipenuhi bunga-bunga indah, ia sama sekali tak menikmati
keindahan yang dipancarkan bunga-bunga itu. Pikirannya masih tertuju pada
kejadian tiga puluh menit yang lalu.
**
Hari
Minggu ini Eka ingin menghabiskan waktunya untuk mencari informasi tentang
teman-teman sekelasnya dulu. Tak terasa sudah setahun Eka pindah dari kota yang
penuh ketenangan dan harus menetap di kota yang penuh hiruk pikuk. Jujur Eka
sangat merindukan tempat tinggalnya dulu, apalagi teman-temannya. Tiba-tiba
Rian–adik kesayangannya– melintas begitu saja di depannya dengan membawa
gadget. Padahal gue ada di sini, tapi
kenapa adek gue ga noleh ke gue? Batin Eka. Karena penasaran, Eka merebut
gadget dari tangan adiknya.
“Kak
balikin dong, aku mau balas chat dari temen tuh” rengek Rian. Eka membalas
rengekan Rian dengan pelototan. Beruntung adik satu-satunya yang Eka punya
menurut padanya.
Tanpa
ragu Eka membuka aplikasi BBM dan membaca satu persatu chat yang terdapat dalam
benda persegi milik adiknya, “Buset dek, lo masih SD udah punya pacar? Gue
bilangin mama nih” ancam Eka.
Adiknya merebut benda persegi dari
tangan Eka, “Sirik aja sih, dasar jomblo”. Nyess kata-kata yang membuat Eka
mengutuk adiknya sendiri.
Via Line
Eka : Tai, adek gue masih SD
udah punya pacar. Gue harus apa?
Aulya : Lo harus nyari pacar
juga -_-
Eka : Saran lo kurang
membantu Au
Eva : Gue setuju sama Aul,
masa lo kalah sama anak SD. Ayo tunjukin kalo lo mampu
Eka : Sebenernya gue ga
jomblo gais
Aulya : Sini send foto lo sama
pacar lo
Membaca
satu persatu pesan dari sahabat-sahabatnya membuat dada Eka sesak. Hanya Eka
yang tak memiliki pacar di antara sahabat-sahabatnya. Eka sadar dirinya hanya
makhluk buruk rupa yang beruntung bisa mendapatkan sahabat-sahabat yang cantik.
Makhluk buruk rupa sepertinya belum pantas memiliki pacar, kecuali ada suatu
keajaiban yang bisa membuat Eka memiliki pacar.
Eka : Eng, gue baru jadian kemarin. Jadi,
gue belum ada selfie bareng pacar gue. Udahan dulu ya
chatnya, gue ada janji (kiss) (love)
Berbohong
adalah salah satu cara untuk menyelamatkan harga dirinya dari ejekan. Tak
peduli dengan efek yang akan ditimbulkan dari kebohongan itu. Yang terpenting
harga dirinya tidak jatuh begitu saja. Terdengar aneh memang, namun inilah
kenyataan hidup Eka.
Eka
tersentak dari lamunan saat dering handphone-nya berbunyi. Benda persegi itu
menampilkan nama Tama di layarnya.
“Halo.
Lo ngapain nelpon gue? Gue lagi sibuk mikirin masa depan gue dan ga ada waktu
buat ngeladenin orang aneh kayak lo” ucap Eka tanpa jeda.
“Maaf
kalo gue ganggu lo. Sekarang gue butuh banget bantuan lo, gue udah ga kuat. Gue
tunggu lo di taman sekarang” kata Tama. Suaranya berbeda dari biasanya. Jika
biasanya ia sangat bersemangat namun tadi suaranya terdengar lesu seperti orang
tak makan sebulan.
Sesampainya
di taman, betapa terkejutnya Eka saat mendapati Tama persis seperti mayat
hidup. Rambut yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan, mata yang
sayu dan wajah yang pucat. Eka merasa bingung dan prihatin di saat yang
bersamaan.
“Lo
kenapa gini?” Eka meletakkan telapak tangannya di dahi Tama.
“Gue ga
demam” Tama menjawab dengan malas. “Gue bingung harus apa. Gue pengen move on
dari Vina. Tapi di sisi lain, Vina terus ngancam gue dengan melakukan hal-hal
bodoh yang ga masuk akal”
Tama
yang selalu membuat Eka jengkel sekarang sangat kacau. Tak sedikitpun terlintas
di kepala Eka bahwa Tama akan sekacau ini hanya karena wanita. Perlu
digarisbawahi hanya karena wanita. Eka
mendengus, matanya menatap Tama lekat-lekat. Lelaki di sampingnya terlihat lebih– bahkan Eka tak
mau melanjutkan pemikirannya yang melenceng hanya karena melihat Tama versi
kalem.
“Hubungan
lo rumit banget sih. Mending lo pacaran sama gue biar Elvina itu sadar kalo
Tama bukan miliknya lagi” ceplos Eka. Ia tak habis pikir mengapa mulutnya tidak
pernah bisa di ajak kompromi. Terlalu ember.
“Lo
nembak gue? Please deh, ini bukan saatnya bercanda” Tama mulai tampak frustasi
.
“Iih,
gue serius tau. Lo tau ga? Temen-temen gue pada ngejek gue karena gue masih
jomblo. Kan tai. Belum lagi adek gue yang masih SD udah punya pacar. Aaaaaaaa!”
Eka berteriak sehingga membuat telinga Tama berdengung.
“Suara
lo kayak dugong. Sakit nih telinga gue. Gue pikir setelah cerita ke orang lain,
hati gue bakal adem tapi nyatanya tambah panas. Udahlah, lo bukannya
menyelesaikan masalah malah bikin masalah tambah banyak” kesabaran Tama
benar-benar diuji sekarang. Ia sudah sangat lelah. Tama beranjak dari duduknya
dan hendak pergi meninggalkan Eka, namun tangan Eka menggenggam lengannya.
“Jadi,
lo nolak saran gue?”
Tama
menaikkan sebelah alisnya, “jadian sama lo? Ogah, mending gue ke laut”
“Coba
pikir lagi, ini bakal menguntungkan buat kita. Gue jamin selama pacaran sama
gue, kesucian lo akan terjaga dengan baik. Gue ga akan ngapa-ngapain lo” ucap
Eka dengan penuh keyakinan. “Lagian ini cuma pacaran bohongan”
Sepertinya
saran Eka cukup menarik bagi Tama. Tak ada salahnya ia
berpacaran–bohongan–dengan Eka. Toh Eka bukan bagian dari ghoul yang ada di anime Tokyo Ghoul. “Oke, jadi
mulai sekarang kita jadian ya. Tapi bohongan”
Eka
tersenyum puas mendengar jawaban Tama. Dengan sigap ia mengambil sisir dan alat
make-up dari tasnya.
“Lo mau
ngapain?” tanya Tama penuh selidik. Ia takut Eka akan mendandaninya seperti
boneka Barbie. Eka tak mengacuhkan pertanyaan Tama dan mulai menyisir rambut
Tama agar terlihat rapi. Tak lupa ia mengolesi wajah Tama dengan bedak dan
bibirnya dengan sedikit lipgloss.
“Selesai.
Sekarang lo udah ga kayak mayat hidup lagi. Sini kita selfie dulu buat
dipamerin ke temen-temen gue” Eka nampak sangat bersemangat kali ini. Bahkan ia
tak memperdulikan tatapan aneh dari para pengunjung taman.
Kenangan
masa lalu yang coba Tama kubur dalam-dalam mulai menyeruak. Kejadian ini hampir
sama seperti dulu.
**
Tama mengedarkan pandangannya ke
seluruh penjuru kafe mencari orang yang sedang menunggunya. Tak seharusnya ia
terlambat dan membiarkan orang itu menunggu apalagi orang itu adalah gadis yang
sangat ia sayangi.
“Tama, gue di sini” teriak
Elvina dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang, Tama menghampiri Elvina yang
sedang duduk sendiri.
“So…sorry Vin gue telat. Tadi
gue ga sengaja ketiduran” ucap Tama terbata-bata karena oksigen belum
sepenuhnya mengisi paru-paru.
Elvina terkekeh mendengar ucapan
Tama, “santai aja kali, gue ga kenapa-kenapa kok. Oh iya, ini minuman lo”.
Tanpa menunggu aba-aba, Tama meneguk semua isi cairan dalam gelas itu tanpa
sisa setetes pun. Melihat tingkah Tama, Elvina lagi-lagi terkekeh, “lo ga takut
gue kasih sianida ke dalam minuman lo barusan?”
“Sianida? Alah, gue ga percaya
lo bakal ngasih racun itu ke gue. Yang ada lo ngasih racun cinta ke minuman gue
biar gue makin cinta ke lo iya kan? Ngaku deh lo” Tama memicingkan matanya
seperti menangkap basah seorang pencuri.
“Apaan sih lo? Oh iya,
penampilan lo hari ini beda banget. Lo keliatan kacau” selidik Elvina.
“Gue ga sempat dandan” lirih
Tama. Elvina mengambil sisir dan bedak dari dalam tasnya dan mulai merapikan
penampilan Tama agar terlihat rapi.
“Selesai. Sekarang kita selfie
yuk, kita kan belum pernah selfie” ajak Elvina.
***
Jujur,
Tama sangat merindukan sifat Elvina yang apa adanya tanpa ancaman-ancaman
konyol. Jika saja Elvina tidak berubah, pasti sekarang yang sedang selfie
dengannya adalah Elvina, bukan Eka.
0 komentar:
Posting Komentar