Kenangan itu menyeruak
kembali. Mengisi tiga perempat bagian otak yang ada.
Tama membuka notiifikasi
instagram di handphone-nya. Semenjak ia putus dengan Elvina, ia tak pernah
mendapat pemberitahuan dari aplikasi garapan Burbn, Inc. dan semenjak itu pula
ia tak memiliki seseorang lagi untuk berbagi cerita. Ia merasa dunianya kosong
dan hampa.
Eka : Tama, lo harus like foto yang gue tag
di instagram terus kita sok-sok sweet gitu biar temen gue sama Elvina percaya
Pesan
dari Eka sukses membuat Tama menganga. Bagaimana tidak? Cewek itu sangat
bersemangat seperti mimpi buruk yang selama ini ia rasakan menghilang. Ia
sangat gentar memamerkan kedekatannya dengan Tama ke teman-temannya. Memuakkan.
Tama : Gue ga punya aplikasi instagram
Tama
berbohong. Ia tak ingin melakukan hal bodoh seperti itu. Ia membenci sesuatu
yang dramatis dan alay. Ia membenci tindakan Eka yang membuatnya merasa de
javu. Stop! Gue ga mau mengingat masa
lalu itu batin Tama. Dengan
kecepatan kilat, Tama menghapus aplikasi instagram dari handphone-nya. Baginya
aplikasi itu hanya akan mengingatkannya pada masa lalu.
Elvina : Tam, kamu beneran udah taken? Kamu beneran
ninggalin aku? Tai, padahal kamu udah janji bakal selalu ada untukku.
Tama : Iya gue inget janji gue yang itu. Tapi
sebagai seorang teman ga lebih. Gue ga bisa gini terus, gue harus melangkah ke
depan.
Shit! Umpat Tama dalam hati. Ia mengutuk
dirinya yang sangat bodoh karena menyetujui ide konyol Eka. Tama yakin kalau
sebentar lagi kerabat Elvina akan meneleponnya karena tindakan Elvina yang
terbilang nekat saat sedang stress.
Kosong dan hampa. Hitam dan gelap. Ia butuh
cahaya untuk mengisi kekosongan.
Setelah mendapat telepon dari Dian–kakak
Elvina– Tama bergegas menuju ke rumah Elvina untuk memastikan keadaannya. Gue ga mau peduli sama Vina lagi sebanyak apapun Tama merapalkan kalimat itu,
sebanyak itulah kepeduliannya terhadap Elvina bertambah. Hati dan otaknya sama
sekali tidak sinkron dan Tama sangat membenci itu.
***
Elvina
bergerak gusar saat membaca pesan dari Tama. Ia tak habis pikir Tama begitu
mudahnya melupakan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.
Entah mendapat dorongan darimana tiba-tiba Elvina membanting vas bunga berisi
bunga kesukaannya, mawar. Vas yang terbuat dari kaca bening itu pecah menjadi
kepingan-kepingan kecil yang pasti jika ada yang menyentuhnya maka orang itu
akan terluka.
“Gue di
sini. Berjuang mati-matian buat mempertahankan rasa yang mungkin sekarang akan
bertepuk sebelah tangan. Gue di sini mencoba buat bikin lo balik lagi di sisi
gue kayak dulu. Gue ga peduli kalo cara yang gue lakuin kali ini terdengar
norak atau nekat yang jelas gue ga pengen kehilangan lo Tama. Please kembali.
Aaaaa” Elvina mulai meracau tidak jelas.
“El,
kamu kenapa? Karena Tama lagi? Sudahlah lupain dia” Dian mencoba menenangkan
Elvina yang tak henti-hentinya meracau seperti orang kesurupan. Ia sangat
mengenal Elvina. Semenjak Tama memutuskan hubungan mereka, Elvina lebih sering
terlihat kacau. Tak mendapat respon dari Elvina, Dian menghubungi Tama untuk
menuntut penjelasan atas apa yang telah dilakukannya pada Elvina.
Tak
sampai setengah jam, Tama datang dengan wajah panik. Ia sudah terbiasa masuk ke
rumah Elvina sehingga ia sangat hapal letak ruangan-ruangan di rumah tersebut
termasuk kamar Elvina. Rumah bergaya mansion dengan berbagai dekorasi mewah
membuat siapa saja yang memasukinya merasa takjub. Seindah apapun perabot rumah
itu, mereka tak pernah bisa menyita perhatian Tama. Perhatian Tama hanya focus
pada Elvina, gadis yang pernah dipacarinya selama dua tahun. Dengan langkah
berderap namun tak tergesa, Tama menuju kamar Elvina. Dibukanya pintu bercat
merah muda itu dengan perlahan, menampakkan dua orang gadis duduk berdampingan.
“Vin,
lo kenapa? Maafin gue yang brengsek ini” lirih Tama. Melihat Elvina seperti
ini, membuat hati Tama tertusuk, hatinya yang sedingin es memaksa luka di masa lalu
menyeruak menimbulkan bekas-bekas yang sukar terhapus.
“Gue
ambilin minum dulu ya” pamit Dian. Alasan klise untuk memberi ruang Tama dan
Elvina agar lebih leluasa membicarakan masalah mereka.
Elvina
menatap Tama dengan tatapan tajam. Menusuk hingga ke dasar hati terdalam
membuat Tama meringis dalam kalbu. “Lo emang brengsek! Gue benci sama lo Tam!”
Teriak Elvina lantang. Suaranya mengisi setiap sudut ruangan dan memukul-mukul
gendang telinga Tama dengan gusar. Merobek-robek pertahanan yang selama ini
sudah dibangun Tama dengan susah payah. Tama menunduk, pikirannya kacau,
hatinya terkoyak, ia tak tahu harus berbuat apa.
“Maafin
gue Vin. Gue ga mau lo kayak gini cuma gara-gara cowok brengsek macam gue. Lo
bisa bahagia tanpa gue, lo bisa cari cowok yang lebih baik, lo bisa ngelakuin
apa aja sesuka lo tanpa terikat dengan gue. Lo harus lupain gue. Gue udah gagal
bikin lo bahagia” jelas Tama dengan mata yang berkaca-kaca. Walaupun dia
lelaki, tapi ia tetap manusia yang bisa meluapkan emosinya meski dalam bentuk
tangisan sekalipun.
“Sebenernya,
lo masih sayang sama gue ‘kan? Kalo lo masih sayang, kita bisa balikan kayak
dulu lagi ‘kan?” ekspresi Elvina berubah drastis. Jika tadi, ekspresinya
terlihat garang seperti hendak memakan apapun yang ada di hadapannya, sekarang
ia terlihat seperti anak kecil yang meminta sebuah permen.
Tama
menggeleng pelan, “Sorry. Gue emang masih sayang sama lo, bahkan sayang banget.
Tapi, kayaknya kita ga bisa balikan”
“Kenapa?”
“Karena
lo bukan Vina gue yang dulu”
“Maksud
lo?”
“Lo
bakal tau maksudnya kalo pikiran lo udah jernih kayak dulu. Oke, kayaknya sekarang
lo udah lebih baik kalo gitu gue balik dulu ya. Jangan pernah ngelakuin hal
bodoh karena gue” Tama mengacak rambut Elvina yang memang sudah berantakan.
Sejujurnya ia sangat merindukan saat-saat seperti ini, namun keadaan seperti
memaksanya untuk berpaling dari masa lalu yang cukup menyesakkan.
“Gue ga
janji soalnya semua tergantung sama lo, kalo lo bikin gue sakit hati otomatis
otak gue memerintahkan seluruh anggota tubuh gue buat ngelakuin hal-hal
bodoh”ucap Elvina sambil tersenyum. Senyum yang sama manisnya seperti dulu,
namun sekarang senyuman itu terasa sangat pahit bagai empedu.
Tama
hanya tersenyum menanggapi perkataan Elvina barusan.
**
Awan cumulonimbus
menutupi mentari sehingga tampak semburat malu-malu menyembul dari balik awan. Daun-daun
pohon Terminalia catappa yang telah menguning jatuh satu persatu tertiup angin
membelai bumi dengan syahdu. Fadia duduk di bawahnya dengan sebuah buku gambar
berukuran A4 di tangannya. Awalnya ia berniat untuk menggambar seseorang yang
selama ini ia kagumi, namun semua pupus. Sudah tiga jam Fadia menunggu, namun
yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Fadia
berdiri, hendak meninggalkan tempat yang selama ini ia jadikan markas untuk
mengamati sang idola dari kejauhan. Namun, kakinya terasa lemas karena melihat
pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Eka dan seseorang yang
Fadia kagumi tengah duduk berdua, memandang danau yang tenang, bercengkrama dan
menghabiskan waktu berdua. Atmosfer di sekitar Fadia seperti naik dengan cepat,
wajahnya memerah seperti terbakar. Ya, terbakar api cemburu.
**
Eka
mengusap pundak Arif, “Seharusnya lo lebih dewasa menghadapi masalah ini. Gue
yakin Vira itu anak baik, dia ga bakal bikin orang lain sedih dengan sengaja.
Lo mesti denger penjelasannya dulu.”
“Ga ada
yang perlu gue denger dari dia. Kalo emang dia anak baik, seharusnya dia bisa
jaga perasaan gue” lirih Arif. Sisi lain dari dirinya terkuak hari ini. Jika
biasanya Arif tampak cool dan gagah, kali ini ia tampak sangat rapuh dan lemah.
“Oke
kalo itu mau lo. Gue harap lo bisa cepet move on dari Vira karena gue ga suka
liat cowok rapuh cuma gara-gara cewek” Sekali lagi Eka mengelus pundak Arif,
menyalurkan kekuatan agar Arif kembali bersemangat seperti dahulu.
Arif
tersenyum, “Thanks Ek, gue yakin lo sama Tama bakal langgeng sampai tua karena
sikap lo yang bisa menyelesaikan masalah secara dewasa”
Dewasa?
Demi apapun sebenarnya Eka sangat jauh dari kata dewasa. Namun, jika Arif
menganggapnya demikan itu tak masalah. Justru nama Tama yang jadi masalah.
Jelas-jelas Eka tak ingin hubungannya dengan Tama langgeng apalagi sampai tua.
Eka mengetok kepalanya sendiri sambil merapalkan kata amit-amit tujuh keturunan.
“Lo
kenapa ketok-ketok kepala? Nanti kepala lo sakit”
“Hehe
gue orangnya emang gini kalo dekat cogan. Eh, gue nanti mau ke rumah lo boleh
ga? Soalnya, selama ini gue ga pernah liat orang selain lo keluar dari rumah
mewah itu”
“Sorry
ya Ek, bukannya ga boleh. Tapi, semua anggota keluarga gue lagi keluar kota.
Kalo lo ke rumah gue nanti tetangga bakal banyak yang berprasangka buruk”
Yang
dikatakan Arif memang benar adanya. Sebagian besar tetangga selalu memiliki
prasangka buruk terhadap muda mudi masa kini. Entah apa yang mereka pikirkan
jika dua orang muda mudi tengah bersama hanya Tuhan yang tahu.
**
0 komentar:
Posting Komentar