Sabtu, 03 September 2016

Different Side 4

Kenangan itu menyeruak kembali. Mengisi tiga perempat bagian otak yang ada.
                Tama membuka notiifikasi instagram di handphone-nya. Semenjak ia putus dengan Elvina, ia tak pernah mendapat pemberitahuan dari aplikasi garapan Burbn, Inc. dan semenjak itu pula ia tak memiliki seseorang lagi untuk berbagi cerita. Ia merasa dunianya kosong dan hampa.
Eka         : Tama, lo harus like foto yang gue tag di instagram terus kita sok-sok sweet gitu biar temen gue sama Elvina percaya
                Pesan dari Eka sukses membuat Tama menganga. Bagaimana tidak? Cewek itu sangat bersemangat seperti mimpi buruk yang selama ini ia rasakan menghilang. Ia sangat gentar memamerkan kedekatannya dengan Tama ke teman-temannya. Memuakkan.
                Tama     : Gue ga punya aplikasi instagram
                Tama berbohong. Ia tak ingin melakukan hal bodoh seperti itu. Ia membenci sesuatu yang dramatis dan alay. Ia membenci tindakan Eka yang membuatnya merasa de javu. Stop! Gue ga mau mengingat masa lalu itu  batin Tama. Dengan kecepatan kilat, Tama menghapus aplikasi instagram dari handphone-nya. Baginya aplikasi itu hanya akan mengingatkannya pada masa lalu.
Elvina    : Tam, kamu beneran udah taken? Kamu beneran ninggalin aku? Tai, padahal kamu udah janji bakal selalu ada untukku.
Tama     : Iya gue inget janji gue yang itu. Tapi sebagai seorang teman ga lebih. Gue ga bisa gini terus, gue harus melangkah ke depan.
                Shit! Umpat Tama dalam hati. Ia mengutuk dirinya yang sangat bodoh karena menyetujui ide konyol Eka. Tama yakin kalau sebentar lagi kerabat Elvina akan meneleponnya karena tindakan Elvina yang terbilang nekat saat sedang stress.
                Kosong dan hampa. Hitam dan gelap. Ia butuh cahaya untuk mengisi kekosongan.
                 Setelah mendapat telepon dari Dian–kakak Elvina– Tama bergegas menuju ke rumah Elvina untuk memastikan keadaannya. Gue ga mau peduli sama Vina lagi  sebanyak apapun Tama merapalkan kalimat itu, sebanyak itulah kepeduliannya terhadap Elvina bertambah. Hati dan otaknya sama sekali tidak sinkron dan Tama sangat membenci itu.
***
                Elvina bergerak gusar saat membaca pesan dari Tama. Ia tak habis pikir Tama begitu mudahnya melupakan kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Entah mendapat dorongan darimana tiba-tiba Elvina membanting vas bunga berisi bunga kesukaannya, mawar. Vas yang terbuat dari kaca bening itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang pasti jika ada yang menyentuhnya maka orang itu akan terluka.
                “Gue di sini. Berjuang mati-matian buat mempertahankan rasa yang mungkin sekarang akan bertepuk sebelah tangan. Gue di sini mencoba buat bikin lo balik lagi di sisi gue kayak dulu. Gue ga peduli kalo cara yang gue lakuin kali ini terdengar norak atau nekat yang jelas gue ga pengen kehilangan lo Tama. Please kembali. Aaaaa” Elvina mulai meracau tidak jelas.
                “El, kamu kenapa? Karena Tama lagi? Sudahlah lupain dia” Dian mencoba menenangkan Elvina yang tak henti-hentinya meracau seperti orang kesurupan. Ia sangat mengenal Elvina. Semenjak Tama memutuskan hubungan mereka, Elvina lebih sering terlihat kacau. Tak mendapat respon dari Elvina, Dian menghubungi Tama untuk menuntut penjelasan atas apa yang telah dilakukannya pada Elvina.
                Tak sampai setengah jam, Tama datang dengan wajah panik. Ia sudah terbiasa masuk ke rumah Elvina sehingga ia sangat hapal letak ruangan-ruangan di rumah tersebut termasuk kamar Elvina. Rumah bergaya mansion dengan berbagai dekorasi mewah membuat siapa saja yang memasukinya merasa takjub. Seindah apapun perabot rumah itu, mereka tak pernah bisa menyita perhatian Tama. Perhatian Tama hanya focus pada Elvina, gadis yang pernah dipacarinya selama dua tahun. Dengan langkah berderap namun tak tergesa, Tama menuju kamar Elvina. Dibukanya pintu bercat merah muda itu dengan perlahan, menampakkan dua orang gadis duduk berdampingan.
                “Vin, lo kenapa? Maafin gue yang brengsek ini” lirih Tama. Melihat Elvina seperti ini, membuat hati Tama tertusuk, hatinya yang sedingin es memaksa luka di masa lalu menyeruak menimbulkan bekas-bekas yang sukar terhapus.
                “Gue ambilin minum dulu ya” pamit Dian. Alasan klise untuk memberi ruang Tama dan Elvina agar lebih leluasa membicarakan masalah mereka.
                Elvina menatap Tama dengan tatapan tajam. Menusuk hingga ke dasar hati terdalam membuat Tama meringis dalam kalbu. “Lo emang brengsek! Gue benci sama lo Tam!” Teriak Elvina lantang. Suaranya mengisi setiap sudut ruangan dan memukul-mukul gendang telinga Tama dengan gusar. Merobek-robek pertahanan yang selama ini sudah dibangun Tama dengan susah payah. Tama menunduk, pikirannya kacau, hatinya terkoyak, ia tak tahu harus berbuat apa.
                “Maafin gue Vin. Gue ga mau lo kayak gini cuma gara-gara cowok brengsek macam gue. Lo bisa bahagia tanpa gue, lo bisa cari cowok yang lebih baik, lo bisa ngelakuin apa aja sesuka lo tanpa terikat dengan gue. Lo harus lupain gue. Gue udah gagal bikin lo bahagia” jelas Tama dengan mata yang berkaca-kaca. Walaupun dia lelaki, tapi ia tetap manusia yang bisa meluapkan emosinya meski dalam bentuk tangisan sekalipun.
                “Sebenernya, lo masih sayang sama gue ‘kan? Kalo lo masih sayang, kita bisa balikan kayak dulu lagi ‘kan?” ekspresi Elvina berubah drastis. Jika tadi, ekspresinya terlihat garang seperti hendak memakan apapun yang ada di hadapannya, sekarang ia terlihat seperti anak kecil yang meminta sebuah permen.
                Tama menggeleng pelan, “Sorry. Gue emang masih sayang sama lo, bahkan sayang banget. Tapi, kayaknya kita ga bisa balikan”
                “Kenapa?”
                “Karena lo bukan Vina gue yang dulu”
                “Maksud lo?”
                “Lo bakal tau maksudnya kalo pikiran lo udah jernih kayak dulu. Oke, kayaknya sekarang lo udah lebih baik kalo gitu gue balik dulu ya. Jangan pernah ngelakuin hal bodoh karena gue” Tama mengacak rambut Elvina yang memang sudah berantakan. Sejujurnya ia sangat merindukan saat-saat seperti ini, namun keadaan seperti memaksanya untuk berpaling dari masa lalu yang cukup menyesakkan.
                “Gue ga janji soalnya semua tergantung sama lo, kalo lo bikin gue sakit hati otomatis otak gue memerintahkan seluruh anggota tubuh gue buat ngelakuin hal-hal bodoh”ucap Elvina sambil tersenyum. Senyum yang sama manisnya seperti dulu, namun sekarang senyuman itu terasa sangat pahit bagai empedu.
                Tama hanya tersenyum menanggapi perkataan Elvina barusan.
**
                Awan cumulonimbus menutupi mentari sehingga tampak semburat malu-malu menyembul dari balik awan. Daun-daun pohon Terminalia catappa yang telah menguning jatuh satu persatu tertiup angin membelai bumi dengan syahdu. Fadia duduk di bawahnya dengan sebuah buku gambar berukuran A4 di tangannya. Awalnya ia berniat untuk menggambar seseorang yang selama ini ia kagumi, namun semua pupus. Sudah tiga jam Fadia menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
                Fadia berdiri, hendak meninggalkan tempat yang selama ini ia jadikan markas untuk mengamati sang idola dari kejauhan. Namun, kakinya terasa lemas karena melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Eka dan seseorang yang Fadia kagumi tengah duduk berdua, memandang danau yang tenang, bercengkrama dan menghabiskan waktu berdua. Atmosfer di sekitar Fadia seperti naik dengan cepat, wajahnya memerah seperti terbakar. Ya, terbakar api cemburu.
**
                Eka mengusap pundak Arif, “Seharusnya lo lebih dewasa menghadapi masalah ini. Gue yakin Vira itu anak baik, dia ga bakal bikin orang lain sedih dengan sengaja. Lo mesti denger penjelasannya dulu.”
                “Ga ada yang perlu gue denger dari dia. Kalo emang dia anak baik, seharusnya dia bisa jaga perasaan gue” lirih Arif. Sisi lain dari dirinya terkuak hari ini. Jika biasanya Arif tampak cool dan gagah, kali ini ia tampak sangat rapuh dan lemah.
                “Oke kalo itu mau lo. Gue harap lo bisa cepet move on dari Vira karena gue ga suka liat cowok rapuh cuma gara-gara cewek” Sekali lagi Eka mengelus pundak Arif, menyalurkan kekuatan agar Arif kembali bersemangat seperti dahulu.
                Arif tersenyum, “Thanks Ek, gue yakin lo sama Tama bakal langgeng sampai tua karena sikap lo yang bisa menyelesaikan masalah secara dewasa”
                Dewasa? Demi apapun sebenarnya Eka sangat jauh dari kata dewasa. Namun, jika Arif menganggapnya demikan itu tak masalah. Justru nama Tama yang jadi masalah. Jelas-jelas Eka tak ingin hubungannya dengan Tama langgeng apalagi sampai tua. Eka mengetok kepalanya sendiri sambil merapalkan kata amit-amit tujuh keturunan.
                “Lo kenapa ketok-ketok kepala? Nanti kepala lo sakit”
                “Hehe gue orangnya emang gini kalo dekat cogan. Eh, gue nanti mau ke rumah lo boleh ga? Soalnya, selama ini gue ga pernah liat orang selain lo keluar dari rumah mewah itu”
                “Sorry ya Ek, bukannya ga boleh. Tapi, semua anggota keluarga gue lagi keluar kota. Kalo lo ke rumah gue nanti tetangga bakal banyak yang berprasangka buruk”
                Yang dikatakan Arif memang benar adanya. Sebagian besar tetangga selalu memiliki prasangka buruk terhadap muda mudi masa kini. Entah apa yang mereka pikirkan jika dua orang muda mudi tengah bersama hanya Tuhan yang tahu.

**

0 komentar:

Posting Komentar