“Bahagia itu sederhana. Melihatmu tersenyum saja sudah
membuatku bahagia.”
“Bersamamu
aku merasakan dua hal sekaligus. Bahagia dan terluka. Bahagia karena bisa di
sisimu, terluka karena tak bisa memilikimu”
Eka
berdecak kesal membaca satu persatu quote yang muncul di timeline-nya.
Bagaimana bisa orang-orang super baper yang membuat quotes alay bisa lebih
popular dibanding dirinya yang sudah bertahun-tahun merintis karier di dunia
maya. Ini tak adil.
“Apa
gue beralih profesi jadi pembuat quotes alay aja kali ya? Sepertinya lebih
menjanjikan mengingat populasi anak baper semakin hari semakin meningkat” jempol Eka menggeser layar benda persegi
kesayangannya dengan lincah.
Menjadi selebgram, youtubers,
blogger atau apapun yang membuatnya terkenal adalah salah satu mimpinya. Bahkan
Eka rela membeli followers instagram untuk membuat orang lain beranggapan kalau
dia terkenal. Memang berlebihan, namun Eka tak peduli. Dimaki, dicaci dan
dibully sudah menjadi sesuatu yang biasa. Baginya, anjing tak akan menggonggong
pada orang yang dikenalnya. Artinya, orang-orang mencaci dirinya karena mereka
tak mengenal Eka.
“Ek, blog lo desainnya alay. Parah
banget”
“Desainnya aja alay, gimana isinya?
Hahaha”
“Isinya cuma copas dari blog orang
lain. Ga guna banget sih”
Semakin banyak yang menghina,
semakin besar juga tekad Eka untuk menjadi terkenal. Hinaan itu memaksa Eka
untuk menjadi orang yang cuek, tak peduli pada sekitar dan keras kepala. Tak
heran jika Eka sering membantah atau tak pernah mau mengalah. Mengalah tidak
termasuk dalam kamus hidupnya.
Pernah suatu hari Rian dan Eka
memperebutkan remote TV. Di sisi lain Eka ingin menonton film action dan di
sisi lainnya Rian ingin menonton kartun. Awalnya memang hanya pertengkaran
kecil, namun keegoisan keduanya membuat pertumpahan darah terjadi di ruang
keluarga. Rian yang masih kecil belum bisa mengendalikan emosinya tak
segan-segan menggigit leher Eka sampai berdarah persis seperti di film vampire.
Eka yang keras kepala dan tidak mau mengalah juga melakukan hal serupa bahkan
lebih tragis hingga Rian pingsan dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
**
Es jeruk tanpa gula. Keasamannya
membuat siapa saja yang meminumnya meringis, bahkan lampu bohlam dapat menyala
jika dihubungkan ke dalam cairan tersebut karena sifat elektrolitnya yang kuat.
Tama sengaja meminum es jeruk tersebut karena baginya, keasaman sangat identik
dengan kehidupan yang dijalaninya. Apalagi, jeruk yang ia pilih adalah jeruk
nipis. Tak bisa dibayangkan bagaimana keasamannya.
“Tam, lo minum es jeruk sampai
habis lima gelas? Amazing banget” Eka takjub melihat Tama meminum lima gelas es
jeruk tanpa makanan sedikitpun. Tanpa pikir panjang, Eka merebut gelas kelima
dari tangan Tama dan meminumnya. Alih-alih dahaganya hilang, ia justru merasa
menyesal telah meminumnya.
“Makanya jangan asal minum. Nanya
dulu kek”
“Gue kira es jeruknya enak, soalnya
muka lo datar waktu minum”
“Jangan suka menebak sesuatu hanya
dari luarnya aja”
“Tapi, luarnya seseorang itu memberikan
kesan pertama bagi yang melihatnya”
Tama tak menanggapi. Diseruputnya
es jeruk hingga habis sampai ke dasar gelas tanpa meringis sedikitpun. Rasa
asam sudah sangat melekat pada dirinya bahkan kehidupan yang dijalaninya terasa
asam. Tama memandangi gantungan kunci dengan tulisan RED di tangannya. Ia
tersenyum miris, nyeri di ulu hati saat melihat benda itu selalu Tama rasakan
belakangan ini. Nyeri yang selalu membuatnya ingin pergi jauh dari dunia.
Keinginannya harus dihempaskan jauh-jauh saat ada sebuah pesan masuk dari
Raka–sahabatnya.
Tam,
lo sudah dapat korban? Dua minggu lagi prosesi penyerahannya dan gue belum dapat satu
orang pun. Gue takut dihukum.
Seperti orang kesetanan, Tama
langsung membanting gelas yang digenggamnya dan berlari sejauh mungkin
meninggalkan Eka dengan berjuta-juta pertanyaan. Eka tak mengerti apa yang
tengah Tama rasakan. Ia tak mengerti apa yang sedang menimpa Tama. Lelaki itu
tak pernah terbuka dengannya dan selalu membuatnya penasaran. Kelam, kesedihan,
amarah hanya itu yang dapat Eka temukan dari mata Tama. Namun Eka tak tahu
penyebabnya.
“Mbak, mas yang tadi udah mecahin
gelas saya. Sebagai pacarnya, Mbak mesti ganti rugi.” Penjual es jeruk ini sama sekali tak mengerti
suasana seharusnya ia membantu Eka mencari tahu tentang Tama bukan malah
menagih ganti rugi macam ini. Eka menyesal telah menghampiri Tama tadi. Tak mau
urusannya makin ribet, Eka merelakan sebagian uang sakunya untuk membayar ganti
rugi.
Gantungan kunci bertuliskan RED
tergeletak tak jauh dari posisi Eka sekarang membuat kening gadis itu berkerut.
Diambilnya dan diteliti dengan seksama. Mungkin ia bisa menemukan semua jawaban
atas pertanyaannya lewat gantungan kunci itu.
Eka,
lo dimana? Ga biasanya lo ngaret
Sebuah pesan singkat masuk. Eka
tersentak. Dibuangnya segala pikiran tentang Tama. Ia harus menemui Arif
segera.
**
Tama terus berlari tak tentu arah.
Tak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Andai saja ia terlahir dari
keluarga miskin yang harmonis pasti ia takkan seperti sekarang. Ini salahnya,
mengapa dulu ia meminta keluarga kaya yang bisa memenuhi segala permintaannya?
Ia tak pernah memikirkan dampak dari semua keinginannya. Kini, Tama hanya ingin
kehidupannya kembali seperti dulu.
Tama berhenti sejenak. Dadanya
kembang kempis memburu napas yang hampir habis. Tanpa sengaja matanya menangkap
sosok seseorang yang sangat dikenalnya, Arif sedang duduk sendiri di sebuah
bangku dipinggir danau. Tama ingin menghampiri, namun tangannya ditahan oleh
Fadia.
“Lo ngapain di sini?”
Fadia meletakkan telunjuknya di
bibir mengisyaratkan Tama untuk diam. Tanpa menjawab pertanyaan dari Tama,
Fadia menunjukkan sebuah buku gambar yang sering dibawanya. Tama membuka lembar
demi lembar dengan sabar. Dilihatnya dengan seksama sketsa wajah yang digambar
Fadia. Semuanya menggambarkan wajah Arif.
“Lo suka sama Arif?”
“Lo udah tau jawabannya. Tapi,
belakangan ini Arif sama Eka sering ketemu” Fadia menunduk, “gue ga tau apa
hubungan mereka. Emangnya lo ga sakit hati ngeliat Eka selingkuh?”
Tama memandang gadis di depannya
dengan iba. Seharusnya Fadia tak menyukai Arif karena lelaki itu tak pantas
untuk disukai. Jika Arif tahu kalau Fadia menyukainya, dapat Tama jamin jika
dalam waktu singkat Fadia akan menjadi korban selanjutnya. Tama sadar dirinya
dan Arif tak jauh berbeda, namun setidaknya Tama masih mempunyai hati nurani.
“Tam, jawab pertanyaan gue. Gue tau
lo sakit juga kan liat mereka? Lo tunggu deh, sebentar lagi pasti Eka datang”
Tak butuh waktu lama, Eka datang.
Ia langsung duduk di samping Arif dan membicarakan sesuatu yang cukup serius.
Tama dan Fadia tak mampu mendengarnya dari jarak sejauh ini. Mereka harus
mendekat bagaimanapun caranya.
**
Eka mengedarkan pandangannya
mencari seseorang di antara ratusan orang memang tidak mudah apalagi tanpa kaca
mata minus yang selalu dipakainya. Eka mengutuk dirinya yang selalu melupakan
kaca matanya , padahal kaca mata itu telah setia mendampingi Eka selama beberapa
tahun. Eka mendengus. Samar-samar terdengar suara seseorang memanggilnya, namun
Eka tak yakin. Ah, apakah selain mata yang rabun telinga Eka juga tuli? Tidak.
Eka benar- benar mendengar seseorang memanggilnya. Eka mencari sumber suara dan
melihat Arif sedang duduk di sebuah bangku sambil melambaikan tangan ke
arahnya. Tanpa pikir panjang, Eka menghampirinya.
“Maaf gue telat, tadi ada sedikit
masalah”
Arif tersenyum. Senyuman yang mampu
melelehkan hati siapa saja yang melihat khususnya para wanita. Tak heran jika
Arif memiliki banyak fans. Eka tahu kedekatannya dengan Arif akan menimbulkan
sesuatu yang tidak baik jika salah satu dari fans-nya melihat kedekatan mereka.
Eka tak ambil pusing, ia yakin jika ia berbuat baik maka Tuhan akan membalas
dengan kebaikan juga. Lagipula, kedekatannya dengan Arif bukan untuk sesuatu
yang macam-macam. Ia ingin membantu Arif move on dari Vira sama seperti ia
membantu Tama untuk move on dari Elvina. Walaupun belum ada hasil dari
usahanya, Eka tetap bersemangat membantu orang lain move on.
“Move on itu bukan tentang
melupakan, melainkan tentang merelakan. Lo harus rela kalau semua yang udah lo
lakuin sama Vira harus jadi kenangan. Tapi ingat, kenangan itu ga boleh lo
lupain. Bisa jadi, itu hanya terjadi sekali seumur hidup lo.” Eka membeberkan semua
yang ia ketahui. Ia menyatukan pendapat dari berbagai sumber seperti buku,
internet, televisi dan berbagai pengalamannya.
Arif mengangguk, dikeluarkannya
sebuah kotak dari dalam tasnya. “Ini untuk lo, terima kasih udah mau meluangkan
waktu untuk gue. Gue harap proses move on ini berhasil”
Eka memperhatikan semua gerak-gerik
Arif mulai dari ia membuka tas sampai mengeluarkan sebuah kotak. Namun, yang
menarik perhatian Eka bukan kotaknya melainkan sebuah gantungan yang tergantung
di tas lelaki itu. Gantungan itu mirip dengan milik Tama.
“Lo juga punya gantungan itu ya?
Otomatis lo sama Tama satu organisasi kan?”
Arif mengerutkan dahinya, lalu
mengangguk dengan ragu.
“Gue punya banyak pertanyaan
tentang Tama dan organisasi itu”
“Maaf Ek, tapi gue cuma teman satu
organisasi. Lagipula, organisasi ini adalah organisasi rahasia dan sebagai
anggota yang baik gue ga boleh menyebarkan informasi kepada siapapun apalagi
selain anggota. Ini untuk lo sebagai perwujudan rasa terima kasih gue” Arif
menyerahkan sebuah kotak dan berlalu pergi. Eka hanya bisa menatap punggung
lelaki itu yang semakin mengecil. Eka harus menemukan semua jawaban dari semua
pertanyaannya.
**
Happy Reading guys. Maaf lama tak update
0 komentar:
Posting Komentar