Sabtu, 03 September 2016

Different Side 5

“Bahagia itu sederhana. Melihatmu tersenyum saja sudah membuatku bahagia.”
                “Bersamamu aku merasakan dua hal sekaligus. Bahagia dan terluka. Bahagia karena bisa di sisimu, terluka karena tak bisa memilikimu”
                Eka berdecak kesal membaca satu persatu quote yang muncul di timeline-nya. Bagaimana bisa orang-orang super baper yang membuat quotes alay bisa lebih popular dibanding dirinya yang sudah bertahun-tahun merintis karier di dunia maya. Ini tak adil.
                “Apa gue beralih profesi jadi pembuat quotes alay aja kali ya? Sepertinya lebih menjanjikan mengingat populasi anak baper semakin hari semakin meningkat”  jempol Eka menggeser layar benda persegi kesayangannya dengan lincah.
Menjadi selebgram, youtubers, blogger atau apapun yang membuatnya terkenal adalah salah satu mimpinya. Bahkan Eka rela membeli followers instagram untuk membuat orang lain beranggapan kalau dia terkenal. Memang berlebihan, namun Eka tak peduli. Dimaki, dicaci dan dibully sudah menjadi sesuatu yang biasa. Baginya, anjing tak akan menggonggong pada orang yang dikenalnya. Artinya, orang-orang mencaci dirinya karena mereka tak mengenal Eka.
“Ek, blog lo desainnya alay. Parah banget”
“Desainnya aja alay, gimana isinya? Hahaha”
“Isinya cuma copas dari blog orang lain. Ga guna banget sih”
Semakin banyak yang menghina, semakin besar juga tekad Eka untuk menjadi terkenal. Hinaan itu memaksa Eka untuk menjadi orang yang cuek, tak peduli pada sekitar dan keras kepala. Tak heran jika Eka sering membantah atau tak pernah mau mengalah. Mengalah tidak termasuk dalam kamus hidupnya.
Pernah suatu hari Rian dan Eka memperebutkan remote TV. Di sisi lain Eka ingin menonton film action dan di sisi lainnya Rian ingin menonton kartun. Awalnya memang hanya pertengkaran kecil, namun keegoisan keduanya membuat pertumpahan darah terjadi di ruang keluarga. Rian yang masih kecil belum bisa mengendalikan emosinya tak segan-segan menggigit leher Eka sampai berdarah persis seperti di film vampire. Eka yang keras kepala dan tidak mau mengalah juga melakukan hal serupa bahkan lebih tragis hingga Rian pingsan dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
**
Es jeruk tanpa gula. Keasamannya membuat siapa saja yang meminumnya meringis, bahkan lampu bohlam dapat menyala jika dihubungkan ke dalam cairan tersebut karena sifat elektrolitnya yang kuat. Tama sengaja meminum es jeruk tersebut karena baginya, keasaman sangat identik dengan kehidupan yang dijalaninya. Apalagi, jeruk yang ia pilih adalah jeruk nipis. Tak bisa dibayangkan bagaimana keasamannya.
“Tam, lo minum es jeruk sampai habis lima gelas? Amazing banget” Eka takjub melihat Tama meminum lima gelas es jeruk tanpa makanan sedikitpun. Tanpa pikir panjang, Eka merebut gelas kelima dari tangan Tama dan meminumnya. Alih-alih dahaganya hilang, ia justru merasa menyesal  telah meminumnya.
“Makanya jangan asal minum. Nanya dulu kek”
“Gue kira es jeruknya enak, soalnya muka lo datar waktu minum”
“Jangan suka menebak sesuatu hanya dari luarnya aja”
“Tapi, luarnya seseorang itu memberikan kesan pertama bagi yang melihatnya”
Tama tak menanggapi. Diseruputnya es jeruk hingga habis sampai ke dasar gelas tanpa meringis sedikitpun. Rasa asam sudah sangat melekat pada dirinya bahkan kehidupan yang dijalaninya terasa asam. Tama memandangi gantungan kunci dengan tulisan RED di tangannya. Ia tersenyum miris, nyeri di ulu hati saat melihat benda itu selalu Tama rasakan belakangan ini. Nyeri yang selalu membuatnya ingin pergi jauh dari dunia. Keinginannya harus dihempaskan jauh-jauh saat ada sebuah pesan masuk dari Raka–sahabatnya.
Tam, lo sudah dapat korban?  Dua minggu lagi  prosesi penyerahannya dan gue belum dapat satu orang pun. Gue takut dihukum.
Seperti orang kesetanan, Tama langsung membanting gelas yang digenggamnya dan berlari sejauh mungkin meninggalkan Eka dengan berjuta-juta pertanyaan. Eka tak mengerti apa yang tengah Tama rasakan. Ia tak mengerti apa yang sedang menimpa Tama. Lelaki itu tak pernah terbuka dengannya dan selalu membuatnya penasaran. Kelam, kesedihan, amarah hanya itu yang dapat Eka temukan dari mata Tama. Namun Eka tak tahu penyebabnya.
“Mbak, mas yang tadi udah mecahin gelas saya. Sebagai pacarnya, Mbak mesti ganti rugi.”  Penjual es jeruk ini sama sekali tak mengerti suasana seharusnya ia membantu Eka mencari tahu tentang Tama bukan malah menagih ganti rugi macam ini. Eka menyesal telah menghampiri Tama tadi. Tak mau urusannya makin ribet, Eka merelakan sebagian uang sakunya untuk membayar ganti rugi.
Gantungan kunci bertuliskan RED tergeletak tak jauh dari posisi Eka sekarang membuat kening gadis itu berkerut. Diambilnya dan diteliti dengan seksama. Mungkin ia bisa menemukan semua jawaban atas pertanyaannya lewat gantungan kunci itu.
Eka, lo dimana? Ga biasanya lo ngaret
Sebuah pesan singkat masuk. Eka tersentak. Dibuangnya segala pikiran tentang Tama. Ia harus menemui Arif segera.
**
Tama terus berlari tak tentu arah. Tak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Andai saja ia terlahir dari keluarga miskin yang harmonis pasti ia takkan seperti sekarang. Ini salahnya, mengapa dulu ia meminta keluarga kaya yang bisa memenuhi segala permintaannya? Ia tak pernah memikirkan dampak dari semua keinginannya. Kini, Tama hanya ingin kehidupannya kembali seperti dulu.
Tama berhenti sejenak. Dadanya kembang kempis memburu napas yang hampir habis. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok seseorang yang sangat dikenalnya, Arif sedang duduk sendiri di sebuah bangku dipinggir danau. Tama ingin menghampiri, namun tangannya ditahan oleh Fadia.
“Lo ngapain di sini?”
Fadia meletakkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan Tama untuk diam. Tanpa menjawab pertanyaan dari Tama, Fadia menunjukkan sebuah buku gambar yang sering dibawanya. Tama membuka lembar demi lembar dengan sabar. Dilihatnya dengan seksama sketsa wajah yang digambar Fadia. Semuanya menggambarkan wajah Arif.
“Lo suka sama Arif?”
“Lo udah tau jawabannya. Tapi, belakangan ini Arif sama Eka sering ketemu” Fadia menunduk, “gue ga tau apa hubungan mereka. Emangnya lo ga sakit hati ngeliat Eka selingkuh?”
Tama memandang gadis di depannya dengan iba. Seharusnya Fadia tak menyukai Arif karena lelaki itu tak pantas untuk disukai. Jika Arif tahu kalau Fadia menyukainya, dapat Tama jamin jika dalam waktu singkat Fadia akan menjadi korban selanjutnya. Tama sadar dirinya dan Arif tak jauh berbeda, namun setidaknya Tama masih mempunyai hati nurani.
“Tam, jawab pertanyaan gue. Gue tau lo sakit juga kan liat mereka? Lo tunggu deh, sebentar lagi pasti Eka datang”
Tak butuh waktu lama, Eka datang. Ia langsung duduk di samping Arif dan membicarakan sesuatu yang cukup serius. Tama dan Fadia tak mampu mendengarnya dari jarak sejauh ini. Mereka harus mendekat bagaimanapun caranya.
**
Eka mengedarkan pandangannya mencari seseorang di antara ratusan orang memang tidak mudah apalagi tanpa kaca mata minus yang selalu dipakainya. Eka mengutuk dirinya yang selalu melupakan kaca matanya , padahal kaca mata itu telah setia mendampingi Eka selama beberapa tahun. Eka mendengus. Samar-samar terdengar suara seseorang memanggilnya, namun Eka tak yakin. Ah, apakah selain mata yang rabun telinga Eka juga tuli? Tidak. Eka benar- benar mendengar seseorang memanggilnya. Eka mencari sumber suara dan melihat Arif sedang duduk di sebuah bangku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Eka menghampirinya.
“Maaf gue telat, tadi ada sedikit masalah”
Arif tersenyum. Senyuman yang mampu melelehkan hati siapa saja yang melihat khususnya para wanita. Tak heran jika Arif memiliki banyak fans. Eka tahu kedekatannya dengan Arif akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik jika salah satu dari fans-nya melihat kedekatan mereka. Eka tak ambil pusing, ia yakin jika ia berbuat baik maka Tuhan akan membalas dengan kebaikan juga. Lagipula, kedekatannya dengan Arif bukan untuk sesuatu yang macam-macam. Ia ingin membantu Arif move on dari Vira sama seperti ia membantu Tama untuk move on dari Elvina. Walaupun belum ada hasil dari usahanya, Eka tetap bersemangat membantu orang lain move on.
“Move on itu bukan tentang melupakan, melainkan tentang merelakan. Lo harus rela kalau semua yang udah lo lakuin sama Vira harus jadi kenangan. Tapi ingat, kenangan itu ga boleh lo lupain. Bisa jadi, itu hanya terjadi sekali seumur hidup lo.” Eka membeberkan semua yang ia ketahui. Ia menyatukan pendapat dari berbagai sumber seperti buku, internet, televisi dan berbagai pengalamannya.
Arif mengangguk, dikeluarkannya sebuah kotak dari dalam tasnya. “Ini untuk lo, terima kasih udah mau meluangkan waktu untuk gue. Gue harap proses move on ini berhasil”
Eka memperhatikan semua gerak-gerik Arif mulai dari ia membuka tas sampai mengeluarkan sebuah kotak. Namun, yang menarik perhatian Eka bukan kotaknya melainkan sebuah gantungan yang tergantung di tas lelaki itu. Gantungan itu mirip dengan milik Tama.
“Lo juga punya gantungan itu ya? Otomatis lo sama Tama satu organisasi kan?”
Arif mengerutkan dahinya, lalu mengangguk dengan ragu.
“Gue punya banyak pertanyaan tentang Tama dan organisasi itu”

“Maaf Ek, tapi gue cuma teman satu organisasi. Lagipula, organisasi ini adalah organisasi rahasia dan sebagai anggota yang baik gue ga boleh menyebarkan informasi kepada siapapun apalagi selain anggota. Ini untuk lo sebagai perwujudan rasa terima kasih gue” Arif menyerahkan sebuah kotak dan berlalu pergi. Eka hanya bisa menatap punggung lelaki itu yang semakin mengecil. Eka harus menemukan semua jawaban dari semua pertanyaannya.
**

Happy Reading guys. Maaf lama tak update

0 komentar:

Posting Komentar