Aku berjalan mengendap-endap takut ketahuan bahwa sedari tadi aku memperhatikannya. Gerak-geriknya susah kupahami. Selama berjam-jam aku mengikutinya, namun aku belum bisa menangkapnya. Entah berapa lama lagi kesabaranku akan habis, yang jelas untuk sekarang aku masih bisa bertahan dengan semua sikapnya yang membuatku geregetan.
Tiba-tiba dia berhenti. Jantungku berdegup dengan kencang. Semoga saja dia tak menyadari bahwa sedari tadi aku mengikutinya. Tapi, ini bukan saatnya aku takut melainkan ini saatnya aku untuk menangkapnya. Ini adalah sebuah kesempatan emas bagiku.
Hap! Aku melompat ke arahnya dengan mata tertutup. Dengan perlahan aku membuka mataku untuk memastikan apakah aku berhasil. Rupanya aku gagal, aku melihatnya terus melompat menjauh dariku.
“Dasar katak sialan! Awas kau,” umpatku menahan amarah.
0 komentar:
Posting Komentar