Aku terpaku melihat keadaan Lila
yang tak sanggup untuk ku gambarkan lagi. Aku menarik Naufal menjauh dari
tempat kejadian itu. Aku tak tau harus berbuat apalagi, yang jelas sekarang
pohon itu telah mengambil satu persatu temanku. Ada apa sebenarnya dengan pohon
itu? Apa salahku padanya? Aku menangis sejadi-jadinya di belakang sekolah,
rambutku sudah tak beraturan karena sedari tadi aku terus mengacak-acaknya.
Naufal hanya terdiam di sampingku, entah apa yang sedang ia pikirkan. Yang
jelas ia sangat berbeda dari Naufal yang ku kenal. Sikap sok ganteng dan
songongnya seketika menghilang, mungkin itu efek dari kejadian yang baru
dilihatnya.
"Ar, lebih baik kita
mencari informasi tentang pohon itu. Daripada kita kehilangan satu persatu
teman-teman kita," ucap Naufal sambil menyentuh bahuku.
Aku terdiam sejenak, otakku
mendadak lemot karena terkena efek dari kejadian barusan. Aku menghapus air
mataku yang berlinang. Benar kata Naufal, lebih baik aku mencari informasi
dibanding menangis seperti bayi kelaparan.
"Kita harus mencari dimana?
Apa perlu kita pergi ke bukit itu?" Tanyaku pada Naufal. Namun, aku malah
mendapat toyoran di kepalaku. Aku meringis kesakitan sambil mengusap kepalaku.
"Otak dipake dong, kita
nanya sama Joji aja lah. Repot banget sih pake ke bukit segala," kata
Naufal sambil berjalan ke arah kelas. Sepertinya efek dari kejadian itu sudah
menghilang, buktinya Naufal kembali ke sifatnya yang songong. Aku berjalan di
belakang Naufal menuju kelas kesayangan kita.
"Fal, lo pernah mimpi
tentang pohon berlubang itu?" Tanyaku di tengah perjalanan. Bukannya apa
ya, soalnya Andi pernah memimpikan hal seperti itu juga. Kemungkinan besar
Naufal juga pernah memimpikannya. Naufal menoleh ke arahku, matanya yang bulat
semakin membulat. Aku menjadi ketakutan menatap matanya. Lima detik kemudian,
ia tersenyum jenaka.
"Apa-apaan lo?"
Teriakku di telinganya. Aku tak suka diperlakukan seperti itu. Demi apapun
semua yang bersikap seolah-olah menakutiku akan ku kutuk menjadi nyamuk, supaya
aku bisa membunuhnya dengan kedua tanganku dan mayatnya akan ku giling
menggunakan penggilingan mie instan.
"Santai dong mbak, baru
digituin aja udah takut. Gimana kalau ngelawan monster penjaga pohon itu?"
Ucap Naufal sambil terkekeh. Aku tak menghiraukan ucapannya dan memilih untuk
melanjutkan perjalananku menuju kelas.
Sesampainya di kelas, aku
melihat Joji duduk di atas lemari. Huh, tingkahnya sudah seperti orang yang
tidak lulus seleksi anggota kura-kura ninja. Aku menoleh ke pojok kelas mencari
obat-obatan yang tadi hendak dimakan Joji. Namun, aku tak menemukan apapun.
Mungkin Joji sudah membuangnya.
"Jo, turun sini. Ada yang
ingin ku tanyakan," teriakku. Joji menoleh ke arahku, tatapannya sangat
horor dan itu membuat bulu kudukku merinding. Setan mana yang telah merasuki
Joji? Apakah setan itu tak bisa memilih orang yang pantas untuk dirasuki? Joji
melompat ke arahku, reflek aku mundur beberapa langkah dan tak sengaja aku
menabrak Naufal. Bukannya menangkapku, justru ia malah menghindar sehingga aku
terjengkang. Rasanya sakit loh. Naufal tertawa terbahak-bahak melihatku
kesakitan, aku segera bangkit dan meninju lengan Naufal.
"Heh kalian! Mengapa
memanggilku? Ada perlu apa haa?" Tanya Joji sambil melotot. Matanya itu
membuat diriku tak kuasa untuk menatapnya. Aku mundur dan berlindung di
belakang tubuh Naufal yang lebih tinggi dari tubuhku.
“Ar, lo kenapa? Takut sama Joji?
Hahaha gue baru tau kalo cewek garang bisa takut sama nerdy boy macam dia,”
tawa Naufal pecah melihatku ketakutan seperti ini. Yang kutakutkan bukan
Jojinya, melainkan setan yang sedang merasukinya.
“Arlita, tadi kau memanggilku
dan sekarang kau bersembunyi di belakang Naufal. Ada apa sebenarnya?” Tanya
Joji dengan ekspresi berbeda dari yang pertama kali aku memanggilnya. Jadi,
kalau Joji mengingat namaku otomatis ia tidak sedang dirasuki. Perlahan aku
maju dan mendekati Joji. Ku tatap lekat-lekat manik matanya, takut-takut
jikalau yang dihadapanku ini bukan Joji yang sebenarnya.
“Apa yang kau lakukan di atas tadi?
Mencari sesuatu?” Tanyaku pada Joji. Joji hanya tersenyum kikuk sambil
menggaruk tengkuknya yang sepert tak gatal.
“Tidak, aku
hanya ingin melihat pemandangan dari atas sini,” jawab Joji dengan cengiran ala
boneka Annabelle. Serem banget. Aku dan Naufal hanya saling memandang dalam
kebingungan.
“Ehem!” aku berdehem, “Jo, kita mau nanya masalah pohon itu,”
ucapku to the point tanpa basa-basi. Joji terbelalak, ia segera membungkam
mulutku dengan tangannya.
“Ssstt, kau jangan berbicara masalah pohon itu di sini. Monster
itu sedang berada di dekat kita, aku bisa merasakan keberadaannya,” ucap Joji
berbisik di telingaku. Aku terkejut mendengar ucapannya barusan. Bisa jadi
monster itu memang sedang mengawasi semua gerak-gerik Joji.
“Tapi Jo, aku sudah tak punya banyak waktu lagi.
Teman-temanku sudah meninggal satu per satu, aku harus segera mengetahui
tentang pohon itu supaya tak ada korban selanjutnya.” Kataku dengan suara
bergetar. Joji berjalan ke arah bangkunya dan mengambil sesuatu dari dalam
tasnya.
“Baca buku ini. Kau harus membacanya sendirian dan jangan
diberi ke siapapun karena itu satu-satunya cara supaya kau aman,” ucap Joji. Aku
segera memeluk buku yang diberikan Joji dan keluar dari dalam kelas diikuti
Naufal.
“Ar, itu buku apaan? Gue boleh liat ga?” Tanya Naufal sambil
mencoba mengambil buku yang sedari tadi ku peluk. Aku mengeratkan pelukanku dan
menggeleng pelan.
“Oke, jadi lo ga percaya sama gue? Yaudah gue ngerti kok,”
ucap Naufal sambil menghela napasnya.
**
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan membaca
buku yang tadi diberikan Joji. Lembaran pertama, aku mendapati gambar seorang
wanita sedang menggendong bayi. Wanita itu memakai gaun panjang berwarna merah
muda dan rambutnya yang berwarna coklat panjang dibiarkan tergerai indah. Di bawahnya
tertulis “My Little Girl is Beautiful”. Bisa ku simpulkan bahwa mereka adalah
ibu dan anak.
Di lembar kedua, aku melihat wanita yang sama namun wajahnya
sudah mulai dipenuhi keriput. Dia mengenakan pakaian berwarna biru laut dan
rambutnya di sanggul rapi, di sebelahnya berdiri seorang gadis dengan rambut coklat
sebahu sedang mengenakan gaun selutut berwarna biru langit. Aku yakin mereka
pasti ibu dan anak yang kulihat di lembar sebelumnya. Aku juga melihat seorang
pria berdiri di samping gadis itu. Di bawahnya tertulis “Awal yang Indah”.
Di lembar-lembar berikutnya yang kulihat hanya foto gadis
dan pria itu dengan senyuman bahagia. Hingga aku sampai pada lembar ke 23, di
situ aku baru melihat foto mereka bertiga lagi. Namun, ada yang berbeda, wanita
itu semakin tua dan ia menggunakan baju yang sangat lusuh, gadis itu pun juga
menggunakan gaun yang sangat lusuh dengan senyuman yang menurutku dipaksakan. Sedangkan
pria itu, dia tersenyum bahagia. Tak lupa ku baca tulisan di bawahnya “Aku harus
menerimanya”. Apa maksudnya? Walaupun aku sudah melihat setengah bagian dari
buku ini, tapi aku juga masih belum bisa menemukan jawaban dari semua
pertanyaanku. Aku harus meminta bantuan kepada seseorang untuk memecahkan
masalah ini. Tanpa ragu, aku menelepon Naufal untuk membantuku.
10 menit kemudian, Naufal datang. Aku segera mengajaknya ke
kamar dan mulai berfikir untuk mencari jawaban dari semua pertanyaanku.
“Menurut gue, ada seorang janda yang mempunyai anak walaupun
mereka hanya hidup berdua namun mereka sangat bahagia. Hingga pada akhirnya
janda itu dinikahi oleh seorang pria yang menurut gue umurnya lebih muda. Awalnya
mereka hidup bahagia, namun lama kelamaan ada sesuatu yang membuat janda dan
anaknya menderita. Udah sih gitu aja menurut gue sampe halaman 23 ini.” Ucap Naufal
dengan santai.
“Wih, gila lo jago banget. Masih banyak lagi nih kayaknya
gambar-gambarnya lanjut yok,” teriakku bersemangat. Aku sangat penasaran dengan
hubungan gambar-gambar ini dan pohon di atas bukit itu.
bersambung
0 komentar:
Posting Komentar