Selasa, 13 Oktober 2015

Pohon kematian Part 3

Naufal membuka lembar ke 24, di situ terlihat pria tadi berdiri dengan dua kepala manusia di tangannya. Aku sangat terkejut melihat gambar itu dan menyuruh Naufal untuk meletakkan buku itu. Tapi, dia justru memeluk buku itu dan tersenyum horor ke arahku.
"Hai, Arlita. Kau terlalu banyak mengetahui tentang keluargaku. Sekarang, kau punya dua pilihan. Mati atau menjadi pengikutku." Ucap Naufal. Suaranya sangat berbeda dari biasanya, suaranya lebih berat dan hmm aku tak bisa menjelaskannya lebih lanjut.
"Si-siapa kau? Mau apa kau memakai tubuh Naufal?" Tanyaku dengan suara bergetar. Demi rumah jamur smurf aku sangat tak suka melihat Naufal seperti ini.
"Aku? Hahaha aku adalah pria yang ada di buku itu dan asal kau tau aku menemukan tubuh temanmu di pinggir lapangan basket. Jadi, aku tidak merebutnya, melainkan memungutnya" ucap Naufal berusaha mendekatiku yang sudah terduduk lemas ketakutan.
"Se-sejak ka-kapan kau memakai tubuhnya?" Tanyaku berusaha setenang mungkin menyembunyikan ketakutanku.
"Sejak kau bermimpi datang ke pohon itu. Apakah kau tidak curiga? Semua temanmu yang fotonya tergantung di pohon itu mati mengenaskan sedangkan Naufal masih hidup. Harusnya kau curiga bodoh!" Bentak Naufal, lebih tepatnya makhluk yang merasuki Naufal, "sekarang kau harus memilih," ucap makhluk itu berbisik. Aku menghembuskan napasku pelan. Benar juga kata makhluk itu, mengapa aku tak curiga dari awal. Dan oh, lihatlah betapa bodohnya diriku yang tak mendengarkan saran Joji untuk tidak mengajak siapapun melihat buku ini.
"Aku tidak akan memilih apapun," jawabku berbisik nyaris tak terdengar. Makhluk di dalam tubuh Naufal menatapku tajam, apa dia mendengarku? Aku menggigit bibir bawahku menahan ketakutan yang semakin menjadi.
"Apa kau bilang? Kau harus memilih sekarang juga, aku akan selalu berada di dekatmu. Kau bisa mati kapan saja sesuai keinginanku." Ucap makhluk itu.
"Aku tak takut, makhluk sepertimu harus musnah dari muka bumi ini. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Membunuh setiap orang yang mengetahui rahasia keluargamu?" Ucapku berpura-pura berani, "itu tak akan membuatmu tenang, ingat mereka masih punya keluarga dan kerabat. Justru itu malah membuat semakin banyak orang yang mengetahui rahasia itu," kataku sambil mencoba berdiri.
"Huh, terserah. Aku tak mau peduli, aku akan menunggu jawabanmu besok. Kalau kau tidak menjawab, tubuh Naufal tak akan pernah kembali." Ucap makhluk itu sambil berlalu keluar dari kamarku. Tinggallah aku di sini sendiri, meratapi nasibku yang terlalu bodoh. Aku harus menghentikan niat jahatnya, tapi apa yang harus kulakukan? Aku hanyalah butiran debu yang tak ada artinya. Hmm sepertinya butiran debu terlalu bagus, lebih baik butiran upil saja.
Aku menatap naas buku itu, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu terbitnya fajar. Apa Joji juga pernah mengalami hal yang sama denganku? Aha, Joji! Itu dia jawabannya Joji. Sekarang aku harus menemui Joji, Joji pasti tau jawaban dari semua ini. Aku segera mengambil jaket dan keluar dari rumah dengan terburu-buru.
Sesampainya aku di rumah Joji, aku langsung mengetuk pintunya dengan tidak sabaran. Tak butuh waktu lama, karena sekarang seorang gadis kecil membuka pintu dengan ekspresi yang ketakutan. Hei, apakah wajahku sangat menakutkan?
"Hai adik kecil, ada Joji?" Tanyaku berusaha seramah mungkin supaya gadis kecil ini tak ketakutan.
"Abang Joji ada di kamarnya, kakak tunggu di sini sebentar ya. Biar Jeni panggilkan," aku mengangguk antusias. Lima menit kemudian Joji keluar dengan muka orang khas bangun tidur. Lihatlah, bahkan jam di tanganku masih menunjukkan pukul 9 malam dan cowok nerd ini sudah tidur?
"Ada apa Ar? Kau mau bertanya masalah pohon itu? Masuklah," ucap Joji sambil mempersilahkan ku masuk. Aku menceritakan semua kejadian yang baru saja ku alami.
"Aku 'kan sudah bilang, jangan ajak siapapun melihat isi buku ini. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya," kata Joji sinis. Demi apapun aku baru melihat Joji yang sesinis ini, "Makhluk itu ada dimana-mana dan dengan kebodohanmu, kau mengajak Naufal ikut melihat isinya. Cuktaw Ar," sambung Joji. Sepertinya kesalahanku kali ini cukup membuat Joji emosi.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" Tanyaku mencoba setenang mungkin, padahal jantungku hampir rontok.
"Jawabannya ada di buku ini. Satu-satunya cara adalah memusnahkan buku ini, supaya makhluk itu dan para pengikutnya hilang." Ucap Joji dengan penuh percaya diri.
"Itu artinya kau juga akan hilang? Apa tidak ada cara lain?" Tanyaku dengan suara bergetar. Aku tak ingin orang di hadapanku hilang. Jangan berfikir aku menyukai Joji, aku hanya tidak ingin cowok ini hilang. Joji mengangguk pasrah, pasrah pada kenyataan yang rumit ini.
"Sekarang, ayo kita ke pohon itu. Kita harus musnahkan buku ini di depan pohon itu," ajak Joji.
Sesampainya di pohon itu, Joji langsung membakar buku itu. Namun, aku merasa ada yang janggal. Ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik kita.
"Lita, aku mohon hentikan. Itu tak akan menyelesaikan masalah," ucap seseorang di telingaku, aku mengarahkan pandanganku kesekitar. Namun hasilnya nihil, aku tak menemukan siapapun kecuali Joji yang sedang membakar buku itu. Apa ini sebuah kode dari makhluk misterius?
"Joji! Hentikan, jangan dibakar." Aku mencoba mematikan api yang membakar buku itu.
"Kenapa Ar? Apa kau tak ingin masalah ini selesai? Aku sudah muak berada dalam keadaan seperti ini setiap hari. Kau tak merasakan bagaimana hancurnya aku saat melihat tubuh-tubuh orang yang ku kenal terkulai lemas tak sadarkan diri," jelas Joji dengan air mata yang mengalir di pipinya, "dulu aku adalah korban bully di sekolah, aku mengalami tekanan batin. Aku banyak mendengar tentang mitos-mitos pohon ini. Entah setan mana yang merasukiku, dengan secuil keberanian aku menerobos melewati pagar peringatan dan menggantung foto-foto orang yang telah membully ku di dahan-dahan pohon. Ku pikir setelah mereka mati, aku bisa hidup damai. Namun ternyata salah, justru aku malah dihantui oleh makhluk-makhluk yang terus meminta kor-" perkataan Joji terpotong. Dia jatuh ke tanah dengan bambu runcing di punggungnya. Aku melihat tubuh Naufal sedang menyeringai ke arahku.
"Mau apa kau pecundang?" Tanyaku sarkatis, sekarang aku sama sekali tak takut dengan makhluk ini. Aku sudah muak dengan permainannya.
Prok! Dia bertepuk tangan dan dalam hitungan detik, aku sudah dikelilingi mayat-mayat hidup. Di antara mayat itu, aku bisa melihat Lila, Andi, dan Vero. Kaki ku terasa seperti jelly, lembek dan tak bisa menopang tubuhku sendiri. Lama kelamaan mayat-mayat hidup itu semakin dekat denganku. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku tak memiliki senjata tajam atau sebagainya, aku hanya menggenggam buku ini dan korek yang tergeletak tak jauh dari tempatku.
Dan yaa, aku harus membakar buku ini. Aku tak peduli dengan apapun yang akan terjadi nanti. Mungkin kali ini aku harus mempercayai perkataan Joji.
Wush! Api membakar dengan cepat buku ini, mayat-mayat yang tadi mengelilingiku satu persatu hilang dengan senyum yang merekah di wajahnya. Aku juga melihat teman-temanku tersenyum padaku sambil mengucapkan kalimat "terima kasih Arlita" yah walaupun aku tak bisa mendengarnya, setidaknya aku bisa membaca gerak bibir mereka. Makhluk yang ada di tubuh Naufal juga sudah pergi entah kemana, mungkin ke tempat yang lebih layak.
**
Acara pemakaman Joji dan Naufal berlangsung dengan khidmat. Aku di panggil ke kantor polisi untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, awalnya polisi tak percaya dengan penjelasanku. Namun, berkat bantuan penjaga bukit dan para penduduk sekitar, para polisi bisa percaya. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa walaupun tanpa Lila, Andi, Vero, Naufal dan Joji.
-TAMAT-


A/N : Yee akhirnya selesai juga cerita ini. awalnya agak ragu, takut ga ada yang baca. Eh sekalinya para CIP (grup chat messenger) pada baca. Alhasil, saya dipaksa untuk melanjutkan cerita ini.
Big Thanks to Anggota CIP, temen-temen sekolah yang namanya saya pinjam, dan para readers ku tercinta. Thanks

1 komentar: