Dia sahabatku, aku sangat menyayanginya. Saat aku kecil, aku sudah di ajarkan oleh Bunda untuk merawatnya. Setiap hari aku selalu mengajak teman-temanku untuk bermain bersamanya sepulang sekolah. Menyiramnya setiap hari dan memberinya pupuk agar dia tumbuh subur adalah rutinitasku setiap hari. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi gadis remaja dan dia juga tumbuh menjadi tinggi dan besar di halaman rumahku. Kasih sayangku mulai berkurang untuknya, aku tak pernah menyiramnya apalagi memberinya pupuk. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai melupakannya. Hingga saat itu tiba. Musim kemarau melanda negara kami. Sahabatku mulai menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan. Daunnya yang berguguran membuat Bunda jengkel dan tanpa sepengetahuanku ia menebang sahabatku. Aku sangat sedih dan menangis berhari-hari. Aku akui semenjak aku tumbuh remaja aku memang tak pernah memperhatikannya lagi seperti dulu karena ku pikir ia bisa mencari zat-zat untuk bertahan hidup melalui akar-akarnya. Namun, aku tak pernah berpikir jika ia akan di tebang seperti ini.
Tak lama, aku merasakan tubuhku kekurangan oksigen. Terlalu banyak karbon dioksida yang ku hirup sehingga menyebabkan aku sakit. Hidup di perkotaan membuat tubuhku harus bekerja lebih ekstra terlebih saat musim kemarau seperti ini. Asap dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan menyebarluas ke seluruh negeri. Andaikan sahabatku masih ada, setidaknya dia bisa membantu walaupun tak pernah terlihat oleh para manusia.
-selesai-
Gimana kalo cerita di atas gue buat jadi cerpen?
0 komentar:
Posting Komentar