Kebahagiaan apa yang telah ku dapatkan? Sepertinya tak ada, bahkan kata ibuku, aku menangis setelah dilahirkan. Hingga aku berumur 16 tahun, aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kata Lena, kebahagiaan adalah saat kita berhasil memenangkan pertandingan basket. Qiyah juga pernah berkata bahwa dia sangat bahagia saat menjadi peringkat satu di kelas. Berbeda dengan mereka, Annis malah bisa bahagia hanya karena ia berhasil menghapal satu buku UUD 1945. Lalu, kebahagiaan seperti apa yang pernah hinggap di diriku? Kebahagiaan yang kurasakan selama ini terasa semu.
Ulang tahunku yang ke-16 tinggal menghitung hari. Aku tak tahu kejutan apa yang akan Tuhan berikan untukku, mengingat ulang tahunku yang lalu tak ada yang istimewa sama sekali. Semua terasa hampa. Orang yang mengatakan dirinya teman, justru malah membuat hatiku semakin sakit dan terpuruk. Jangan tanya mengapa karena aku tak ingin mengingatnya.
Beberapa bulan belakangan ini, keluargaku seperti porak poranda. Ayah dan ibuku sering bertengkar. Bahkan, ibu sering meluapkan amarahnya padaku dan adikku. Ternyata tak semua orang dewasa memiliki sifat dewasa. Masalah-masalah kecil bisa menjadi besar hanya karena sifat kekanak-kanakkan mereka dan itu membuatku sangat muak.
Aku lelah dengan semua sandiwara yang dilakukan orang dewasa. Hidup mereka seperti sinetron yang tak kunjung tamat. Masalah-masalah yang mereka timbulkan sendiri, seakan mengalir seperti air di sungai. Titik temu yang seharusnya mereka dapatkan, justru menghilang karena keegoisan mereka masing-masing. Nasehat yang ku berikan seperti angin lalu, tak pernah di anggap. Apa karena aku belum dewasa?
Aku berdiri di trotoar jalan. Mengingat kembali apa yang terjadi padaku lima menit yang lalu. Semua terasa sakit dan menyesakkan dada. Bahkan sekarang aku tak tahu cara bernapas yang baik dan benar. Kalimat yang keluar dari mulutnya seperti bom yang sudah ia simpan lama dan meledak di hadapanku. Aku terkejut, takut, dan sakit. Aku berteriak namun tak didengar. Aku menangis namun air mataku sudah kering. Aku tersenyum namun percuma. Aku tertawa namun tak bisa. Aku seperti terkurung dalam jeruji besi. Tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa menyimpannya dalam hati dan meluapkannya lewat goresan-goresan luka di tanganku. Untuk apa aku hidup? Toh tak ada yang peduli. Namun jika aku mati, aku takut Tuhan tak menerimaku. Aku butuh penyemangat untuk tetap hidup. Aku butuh lentera untuk menerangi jalanku. Aku butuh embun untuk menghilangkan dahagaku. Aku butuh peta untuk menunjukkanku jalan yang benar. Aku butuh cinta dari mereka untuk bahagia. Tapi, aku tak pernah mendapatkannya. Mengapa semua ini terjadi padaku? Aku belum siap untuk menjalani hidup kelabu seperti ini. Aku ingin seperti mereka yang bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Ayah, Ibu. Ku mohon jangan berpisah. Aku masih membutuhkan kalian dalam bentuk kebersamaan bukan perpisahan.
Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan untukku. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha menjalankan rencana-Nya dengan senyuman. Mungkin di balik ini semua, ada sesuatu yang indah tengah menantiku. Tunggulah, aku akan pergi menuju keindahan itu.
Di ulang tahunku yang ke 16 ini, aku berharap kita -keluargaku- bisa berkumpul, tertawa, bersenda gurau bersama di kemudian hari. Jika itu tak terjadi di dunia, biarkanlah itu menjadi kado terindahku di akhirat nanti.
Story by Devi Kumala
Source : Millennia Intan Borneo and Ananda Fadia Tasya
0 komentar:
Posting Komentar