Fadhil berlari ke atap sekolah,
melampiaskan rasa sakit hatinya dengan menangis sepuas-puasnya. Siapa yang bisa
melepaskan ribuan tusuk sate di hatinya? Sepertinya hanya Millen seorang.
Fadhil terkejut, karena ada seseorang yang menepuk pundaknya. Reflek ia menoleh
dan mendapati seorang gadis blasteran sedang tersenyum ke arahnya.
"Hi, apa yang sedang kamu
lakukan?" Tanyanya dengan logat bule, sepertinya dia belum terlalu
menguasai bahasa Indonesia.
"Gue cuma duduk-duduk doang,
lo siapa?" Tanya Fadhil menginterupsi. Gadis itu berfikir sejenak,
beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"My name is Arisa, nama kamu
siapa?" Tanya gadis yang memiliki nama Arisa itu. Gadis cantik itu ikut
duduk di sebelah Fadhil, matanya yang berwarna biru malam menyusuri setiap sudut
sekolah yang tampak dari tempatnya duduk.
"Nama gue Fadhil," ucap
Fadhil tanpa ekspresi, dia sudah terlalu muak dengan kenyataan pahit yang
menimpa dirinya, "Ris, ada yang salah ya sama fisik gue?" Tanya
Fadhil. Arisa segera menoleh dan menatap mata coklat Fadhil.
"Tidak ada, kamu memiliki
anggota tubuh yang lengkap dan sesuai." Jawab Arisa seadanya. Fadhil
mengacak rambutnya frustasi, ternyata berbicara dengan bule sangat menguras
energi.
"Kamu sedang sedih ya? Jika
kau mau, kau bisa bercerita padaku kapanpun kau mau," ucap Arisa sambil
memegang tangan Fadhil. Fadhil terkejut dibuatnya, jantungnya bahkan berdetak
lebih cepat, darahnya berdesir dan oh kenapa napasnya terasa sesak? Fadhil
butuh oksigen sekarang, gadis ini membawa efek yang luar biasa bagi kesehatan
Fadhil. Arisa panik melihat asma Fadhil kambuh.
"Help me! Please!" Teriak
Arisa dari atas atap. Untung saja para siswa yang sedang berolahraga di
lapangan dengan sigap menghampiri Fadhil dan Arisa. Mereka membawa Fadhil ke
uks.
"Dia kenapa? Apa dia sakit?
Aku tak melakukan apapun terhadapnya," ucap Arisa panik.
**
"Apa? Asmanya Fadhil
kambuh?" Tanya Dedy kepada anak PMR yang baru saja memberikan surat
izinnya Fadhil, "Millen, lo yang udah bikin asmanya Fadhil kambuh. Lo
mesti tanggung jawab," ucap Dedy dengan amarah yang membara. Walaupun
Fadhil dan Dedy selalu beradu argumen, tapi percayalah bahwa Dedy dan Fadhil
saling menyayangi.
"Apaan kok jadi gue? Gue aja
kagak tau apa-apa." Protes Millen dengan amarah yang tak kalah membara.
"Lo tau ga, Fadhil itu suka
sama lo. Pasti dia seneng banget waktu lo ngirim pesan itu ke grup kelas"
ucap Dedy sambil menunjuk wajah Millen.
"Terus, emangnya itu salah
gue? 'Kan gue udah jelasin kalo semalam handphone gue di bajak Nanda. Lo taunya
gue mulu yang salah, gue emang selalu salah di mata lo," ucap Millen
dengan nada yang lebih pelan. Dedy mendengus kesal, akal sehatnya sudah tak
bekerja sebagaimana mestinya. Yang ia khawatirkan sekarang hanya Fadhil.
"Udahlah Ded, percaya aja kalo
Fadhil ga kenapa-napa. Kalo lo nyalahin Millen terus, emangnya Fadhil bakalan
sembuh?" Maria mencoba menenangkan Dedy. Seperti Mario Teguh, Maria juga
memiliki kemampuan untuk mengupas dan menyelesaikan suatu masalah. Tidak hanya
itu, Maria juga selalu mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi untuk
teman-temannya.
"Iya Mar, gue tau. Tapi, si
alay ini harus ikut gue jenguk Fadhil nanti." Ucap Dedy menekan setiap
kalimat yang ia ucapkan. Millen hanya menunduk, ia tak berani menatap mata Dedy
yang menyiratkan kepedihan.
"Hahaha Millen si alay"
tawa Adit pecah dan mencairkan suasana yang sempat membeku karena amarah Dedy.
Semua orang di kelas menatap horor ke arah Adit. Itulah Adit, yang lain sedang
serius, tapi ia malah membuat lelucon yang sama sekali tak lucu.
Pletak!
Sebuah jitakan mendarat mulus di
kepalanya yang botak. Adit meringis menahan sakit di kepalanya.
"Maria, lo bisa nyantai ga
sih? Sakit nih kepala gue. Entar kalo bocor lo mau tanggung jawab?" Ucap
Adit. Namun, Maria hanya menganggap ucapan Adit barusan seperti angin lalu.
Adit mendengus kesal, ia berpikir sejenak dan tanpa sengaja matanya melihat
sebuah benang berwarna coklat. Timbul sebuah ide di kepala botaknya untuk
membalas perbuatan Maria.
"Hiyaa Maria ada cacing!"
Teriak Adit heboh. Maria yang phobia dengan cacing, reflek melompat ke atas
kursi. Adit yang melihat sikap Maria pun tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Maria
mendapatkan balasannya.
Dedy yang melihat sikap Maria dan
Adit hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia sudah terbiasa dengan sikap
mereka yang terkesan aneh. Sebagai ketua kelas yang baik, tidak sombong dan
rajin menabung ia cukup sabar menghadapi teman-temannya.
**
Sepulang sekolah, Dedy memaksa
Millen untuk ikut dengannya menjenguk Fadhil. Millen hanya menurut karena takut
Dedy akan marah seperti di kelas tadi. Toh hanya menjenguk apa salahnya, anggap
saja ini sebagai permintaan maaf karena sudah membuat Fadhil salah paham. Dedy
dan Millen berjalan menyusuri koridor sekolah yang dipenuhi siswa-siswi yang
ingin kembali ke rumah masing-masing. Perjuangan tangguh sangat di butuhkan
untuk melewati kerumunan ini. Tak jarang ada siswa/siswi yang terjatuh atau
terinjak-injak saat jam pulang sekolah.
“Halo Tante, Fadhil sekarang ada di
rumah atau di rumah sakit? Soalnya, saya mau jenguk dia,” tanya Dedy lewat
sambungan telepon.
“Fadhil ada di rumah sakit, Nak.”
Jawab mamanya Fadhil. Begitu mendengar jawaban mamanya Fadhil, Dedy langsung
menarik tangan Millen menuju halte bus.
“Ih Ded, apaan sih pake
tarik-tarik? Hellow, ini bukan lomba tarik tambang ya,” protes Millen. Namun,
Dedy tak menanggapinya, “Dedy! Lepasin tangan gue!” teriak Millen, kali ini
suara cemprengnya yang khas berhasil membuat Dedy melepaskan genggaman
tangannya.
“Sumpah suara lo bikin gendang
telinga gue hampir pecah,” Dedy mengelus-ngelus telinganya yang mungkin sedang
berdengung. Millen memutar bola matanya dan berjalan mendahului Dedy. Mentang-mentang
dia ketua kelas, dia bisa seenaknya.
**
Sesampainya di rumah sakit, Dedy
langsung menemui Fadhil yang sedang terbaring lemas dengan selang infuse di
tangannya.
“Hai Dhil, gue ajak Millen ke sini
loh,” ucap Dedy dengan senyum tiga jari yang terpasang di wajahnya. Fadhil
tersenyum simpul mendengar ucapan Dedy. Sebagian dari dirinya merasa gembira,
namun sebagian lagi merasa jengkel dengan perlakuan Millen.
“Emangnya kalo lo ngajak Millen
kenapa?” Tanya Fadhil pura-pura tak mengetahui.
“Lo kira gue ga tau kalo sebenernya
lo suka sama Mil–“ belum sempat Dedy menyelesaikan kalimatnya karena tangan
Fadhil yang besar segera membungkam
mulutnya, “tangan lo asin Dhil,” ucap Dedy sambil menjilat bibir
atasnya.
“Yee, kagak usah di rasain juga
tangan gue. Mana Millen?” Tanya Fadhil sambil menengok ke arah pintu masuk.
Dedy keluar untuk memanggil Millen, namun ia justru mendapat suguhan
pemandangan yang luar biasa. Dedy segera mengambil handphonenya dan memotret
pemandangan yang sangat langka itu.
Jepret!
Tak tanggung-tanggung Dedy langsung mengambil sepuluh jepretan
sekaligus. Jarang sekali melihat cewek alay ngupil di koridor rumah sakit. Saking
nikmatnya, Millen sampai tak menyadari bahwa sedari tadi Dedy memperhatikannya.
“Hahaha… lucu ya kalau cewek alay ngupil. Ada sensasinya gitu” tawa Dedy
membahana membuat sebagian pengunjung rumah sakit menoleh ke arahnya dan
Millen.
“Apa? Jadi tadi–“ Millen menatap Dedy dengan tatapan bingung. Beberapa detik
kemudian, Millen mengacak wajahnya sendiri. “Lo keterlaluan, pokoknya gue ga
mau ketemu sama Fadhil” ucap Millen geram. Ia sama sekali tak menyangka jika
Dedy melihat kegiatan ngupilnya.
“Oh, kalau gitu foto-foto lo yang lagi ngupil bakal gue share ke semua
akun social media yang gue punya” kata Dedy dengan senyum yang mengembang. Ia seperti
baru saja memenangkan togel.
Millen terkejut mendengarnya. Ternyata selain melihat, Dedy juga
memotretnya. Jika foto itu sampai tersebar luas, entah bencana apa yang akan
menimpanya di sekolah.
“Oke, gue bakal ketemu sama Fadhil” Millen akhirnya menyerah. Ia tak
ingin foto aibnya tersebar luas. Dengan langkah berat, ia memasuki ruang rawat
Fadhil.
“Hai Millen. Gue tau lo gak akan tega ngeliat gue sakit. Thanks udah mau
datang” Fadhil tersenyum ke arah Millen. Namun, Millen tak membalas senyuman
itu. Pikirannya hanya tertuju kepada foto-foto aibnya. Andaikan ia tak ceroboh,
pasti hal seperti ini takkan terjadi. Sekarang ia harus mencari cara untuk
menghapus foto-foto itu dari handphone Dedy.
~Bersambung~
0 komentar:
Posting Komentar