Jumat, 22 Januari 2016

Aku Padamu Millen-2

Fadhil berlari ke atap sekolah, melampiaskan rasa sakit hatinya dengan menangis sepuas-puasnya. Siapa yang bisa melepaskan ribuan tusuk sate di hatinya? Sepertinya hanya Millen seorang. Fadhil terkejut, karena ada seseorang yang menepuk pundaknya. Reflek ia menoleh dan mendapati seorang gadis blasteran sedang tersenyum ke arahnya.
"Hi, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya dengan logat bule, sepertinya dia belum terlalu menguasai bahasa Indonesia.
"Gue cuma duduk-duduk doang, lo siapa?" Tanya Fadhil menginterupsi. Gadis itu berfikir sejenak, beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"My name is Arisa, nama kamu siapa?" Tanya gadis yang memiliki nama Arisa itu. Gadis cantik itu ikut duduk di sebelah Fadhil, matanya yang berwarna biru malam menyusuri setiap sudut sekolah yang tampak dari tempatnya duduk.
"Nama gue Fadhil," ucap Fadhil tanpa ekspresi, dia sudah terlalu muak dengan kenyataan pahit yang menimpa dirinya, "Ris, ada yang salah ya sama fisik gue?" Tanya Fadhil. Arisa segera menoleh dan menatap mata coklat Fadhil.
"Tidak ada, kamu memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sesuai." Jawab Arisa seadanya. Fadhil mengacak rambutnya frustasi, ternyata berbicara dengan bule sangat menguras energi.
"Kamu sedang sedih ya? Jika kau mau, kau bisa bercerita padaku kapanpun kau mau," ucap Arisa sambil memegang tangan Fadhil. Fadhil terkejut dibuatnya, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat, darahnya berdesir dan oh kenapa napasnya terasa sesak? Fadhil butuh oksigen sekarang, gadis ini membawa efek yang luar biasa bagi kesehatan Fadhil. Arisa panik melihat asma Fadhil kambuh.
"Help me! Please!" Teriak Arisa dari atas atap. Untung saja para siswa yang sedang berolahraga di lapangan dengan sigap menghampiri Fadhil dan Arisa. Mereka membawa Fadhil ke uks.
"Dia kenapa? Apa dia sakit? Aku tak melakukan apapun terhadapnya," ucap Arisa panik.
**
"Apa? Asmanya Fadhil kambuh?" Tanya Dedy kepada anak PMR yang baru saja memberikan surat izinnya Fadhil, "Millen, lo yang udah bikin asmanya Fadhil kambuh. Lo mesti tanggung jawab," ucap Dedy dengan amarah yang membara. Walaupun Fadhil dan Dedy selalu beradu argumen, tapi percayalah bahwa Dedy dan Fadhil saling menyayangi.
"Apaan kok jadi gue? Gue aja kagak tau apa-apa." Protes Millen dengan amarah yang tak kalah membara.
"Lo tau ga, Fadhil itu suka sama lo. Pasti dia seneng banget waktu lo ngirim pesan itu ke grup kelas" ucap Dedy sambil menunjuk wajah Millen.
"Terus, emangnya itu salah gue? 'Kan gue udah jelasin kalo semalam handphone gue di bajak Nanda. Lo taunya gue mulu yang salah, gue emang selalu salah di mata lo," ucap Millen dengan nada yang lebih pelan. Dedy mendengus kesal, akal sehatnya sudah tak bekerja sebagaimana mestinya. Yang ia khawatirkan sekarang hanya Fadhil.
"Udahlah Ded, percaya aja kalo Fadhil ga kenapa-napa. Kalo lo nyalahin Millen terus, emangnya Fadhil bakalan sembuh?" Maria mencoba menenangkan Dedy. Seperti Mario Teguh, Maria juga memiliki kemampuan untuk mengupas dan menyelesaikan suatu masalah. Tidak hanya itu, Maria juga selalu mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi untuk teman-temannya.
"Iya Mar, gue tau. Tapi, si alay ini harus ikut gue jenguk Fadhil nanti." Ucap Dedy menekan setiap kalimat yang ia ucapkan. Millen hanya menunduk, ia tak berani menatap mata Dedy yang menyiratkan kepedihan.
"Hahaha Millen si alay" tawa Adit pecah dan mencairkan suasana yang sempat membeku karena amarah Dedy. Semua orang di kelas menatap horor ke arah Adit. Itulah Adit, yang lain sedang serius, tapi ia malah membuat lelucon yang sama sekali tak lucu.
Pletak!
Sebuah jitakan mendarat mulus di kepalanya yang botak. Adit meringis menahan sakit di kepalanya.
"Maria, lo bisa nyantai ga sih? Sakit nih kepala gue. Entar kalo bocor lo mau tanggung jawab?" Ucap Adit. Namun, Maria hanya menganggap ucapan Adit barusan seperti angin lalu. Adit mendengus kesal, ia berpikir sejenak dan tanpa sengaja matanya melihat sebuah benang berwarna coklat. Timbul sebuah ide di kepala botaknya untuk membalas perbuatan Maria.
"Hiyaa Maria ada cacing!" Teriak Adit heboh. Maria yang phobia dengan cacing, reflek melompat ke atas kursi. Adit yang melihat sikap Maria pun tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Maria mendapatkan balasannya.
Dedy yang melihat sikap Maria dan Adit hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia sudah terbiasa dengan sikap mereka yang terkesan aneh. Sebagai ketua kelas yang baik, tidak sombong dan rajin menabung ia cukup sabar menghadapi teman-temannya.
**
Sepulang sekolah, Dedy memaksa Millen untuk ikut dengannya menjenguk Fadhil. Millen hanya menurut karena takut Dedy akan marah seperti di kelas tadi. Toh hanya menjenguk apa salahnya, anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena sudah membuat Fadhil salah paham. Dedy dan Millen berjalan menyusuri koridor sekolah yang dipenuhi siswa-siswi yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Perjuangan tangguh sangat di butuhkan untuk melewati kerumunan ini. Tak jarang ada siswa/siswi yang terjatuh atau terinjak-injak saat jam pulang sekolah.
“Halo Tante, Fadhil sekarang ada di rumah atau di rumah sakit? Soalnya, saya mau jenguk dia,” tanya Dedy lewat sambungan telepon.
“Fadhil ada di rumah sakit, Nak.” Jawab mamanya Fadhil. Begitu mendengar jawaban mamanya Fadhil, Dedy langsung menarik tangan Millen menuju halte bus.
“Ih Ded, apaan sih pake tarik-tarik? Hellow, ini bukan lomba tarik tambang ya,” protes Millen. Namun, Dedy tak menanggapinya, “Dedy! Lepasin tangan gue!” teriak Millen, kali ini suara cemprengnya yang khas berhasil membuat Dedy melepaskan genggaman tangannya.
“Sumpah suara lo bikin gendang telinga gue hampir pecah,” Dedy mengelus-ngelus telinganya yang mungkin sedang berdengung. Millen memutar bola matanya dan berjalan mendahului Dedy. Mentang-mentang dia ketua kelas, dia bisa seenaknya.
**
Sesampainya di rumah sakit, Dedy langsung menemui Fadhil yang sedang terbaring lemas dengan selang infuse di tangannya.
“Hai Dhil, gue ajak Millen ke sini loh,” ucap Dedy dengan senyum tiga jari yang terpasang di wajahnya. Fadhil tersenyum simpul mendengar ucapan Dedy. Sebagian dari dirinya merasa gembira, namun sebagian lagi merasa jengkel dengan perlakuan Millen.
“Emangnya kalo lo ngajak Millen kenapa?” Tanya Fadhil pura-pura tak mengetahui.
“Lo kira gue ga tau kalo sebenernya lo suka sama Mil–“ belum sempat Dedy menyelesaikan kalimatnya karena tangan Fadhil yang besar segera membungkam  mulutnya, “tangan lo asin Dhil,” ucap Dedy sambil menjilat bibir atasnya.
“Yee, kagak usah di rasain juga tangan gue. Mana Millen?” Tanya Fadhil sambil menengok ke arah pintu masuk. Dedy keluar untuk memanggil Millen, namun ia justru mendapat suguhan pemandangan yang luar biasa. Dedy segera mengambil handphonenya dan memotret pemandangan yang sangat langka itu.
Jepret!
Tak tanggung-tanggung Dedy langsung mengambil sepuluh jepretan sekaligus. Jarang sekali melihat cewek alay ngupil di koridor rumah sakit. Saking nikmatnya, Millen sampai tak menyadari bahwa sedari tadi Dedy memperhatikannya.
“Hahaha… lucu ya kalau cewek alay ngupil. Ada sensasinya gitu” tawa Dedy membahana membuat sebagian pengunjung rumah sakit menoleh ke arahnya dan Millen.
“Apa? Jadi tadi–“ Millen menatap Dedy dengan tatapan bingung. Beberapa detik kemudian, Millen mengacak wajahnya sendiri. “Lo keterlaluan, pokoknya gue ga mau ketemu sama Fadhil” ucap Millen geram. Ia sama sekali tak menyangka jika Dedy melihat kegiatan ngupilnya.
“Oh, kalau gitu foto-foto lo yang lagi ngupil bakal gue share ke semua akun social media yang gue punya” kata Dedy dengan senyum yang mengembang. Ia seperti baru saja memenangkan togel.
Millen terkejut mendengarnya. Ternyata selain melihat, Dedy juga memotretnya. Jika foto itu sampai tersebar luas, entah bencana apa yang akan menimpanya di sekolah.
“Oke, gue bakal ketemu sama Fadhil” Millen akhirnya menyerah. Ia tak ingin foto aibnya tersebar luas. Dengan langkah berat, ia memasuki ruang rawat Fadhil.

“Hai Millen. Gue tau lo gak akan tega ngeliat gue sakit. Thanks udah mau datang” Fadhil tersenyum ke arah Millen. Namun, Millen tak membalas senyuman itu. Pikirannya hanya tertuju kepada foto-foto aibnya. Andaikan ia tak ceroboh, pasti hal seperti ini takkan terjadi. Sekarang ia harus mencari cara untuk menghapus foto-foto itu dari handphone Dedy.

~Bersambung~

0 komentar:

Posting Komentar