Kata orang cinta itu buta. Tak peduli kasta, kedudukan,
keturunan, bentuk wajah ataupun berat badan. Yang penting cinta, pasti akan
bersama. Fadhil, seorang cowok yang memiliki tubuh gemuk harus menerima
sakitnya patah hati di awal ia mulai merasakan cinta.
**
Ya Tuhan, jadikanlah dia jodohku. Walaupun aku harus
menerima sakit di awal, itu tak masalah. Bukannya kata Bang Haji Rhoma Irama
“Bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian”?
-Fadhil
Demi apa gue ditembak sama gajah sumatera? Cewek secantik
gue kurang layak kalau harus pacaran sama
gajah sumatera.
-Millen
**
“Fadhil, lo ngapain ngeliatin es
teh ga kedip-kedip? Gue tau kok lo jomblo,” ucap Dedy yang baru saja duduk di
sebelah Fadhil.
“Lah, terus hubungannya es teh sama
jomblo apaan? Sumpah Ded, gue susah ngertiin omongan lo,” kata Fadhil sambil
mengusap keringat di keningnya.
“Kalo jomblo ga ada yang
diperhatiin, jadinya gara-gara itu lo merhatiin es teh.” Ujar Dedy cengengesan.
Dedy adalah salah satu teman setia
Fadhil. Jika ia berbicara, dijamin tidak akan ada yang mengerti kecuali emak
dan bapaknya. Jadi, kalau ingin berbicara dengannya harus menyiapkan translator
dahulu. Fadhil meninju lengan Dedy dengan sisa tenaga yang ia miliki,
sepertinya panas membuat tenaganya sedikit demi sedikit berkurang.
“Eh, lo ninju atau nyolek sih? Lo
kira gue sabun apa pake dicolek-colek?” Ucap Dedy dengan nada sewot. Arif yang
tadi sedang memantul-mantulkan bola basket, berjalan ke arah Fadhil dan Dedy
yang sedang beradu argumen.
“Dil, mana es gue? Haus nih,” ucap
Arif sambil mengelus lehernya. Fadhil menyerahkan es yang masih utuh dengan
setengah ikhlas dan tanpa basa-basi Arif meminumnya hingga habis. Fadhil
menatapnya tak percaya, bagaimana seorang Arif yang terkenal cool bisa
menghabiskan es teh dalam satu tenggukan. Oke ini memang tak ada hubungannya,
maafkan Fadhil yang terlalu lebay.
Seorang gadis cantik dengan tubuh
seperti model datang menghampiri tiga cowok yang sedang bersantai layaknya di
pantai. Ah, sepertinya lebih tepat jika gadis itu hanya menghampiri Arif.
“Arif, lo tadi keren banget waktu
mantul-mantulin bola. Gue sampe ga kuat liatnya,” ucap gadis itu histeris
sambil memukul-mukul lengan Arif dengan gemas. Arif yang melihatnya hanya
tersenyum canggung.
“Millen, lo alay banget sih. Baru
juga liat yang begituan,” ucap Fadhil sinis, ada nada tidak suka dalam kalimat
itu. Memang sudah sejak lama Fadhil menyukai Millen, namun apalah daya Millen
yang tak pernah peka dengan perasaan Fadhil.
“Begituan? Haha gue ambigu,” tawa
Dedy mencairkan suasana yang sempat membeku karena ucapan Fadhil. Arif memberi
satu jitakan di kepala Dedy, “apaan sih lo Rif? Mau gue kasih ini?” protes Dedy
sambil menunjukkan kepalan tangannya.
“Udah deh, gue males ngeladenin
gajah sumatera yang satu ini. Gue pergi dulu ya,” ucap Millen sembari
melambaikan tangan ke arah mereka bertiga. Arif menghembuskan napasnya lega,
Arif sangat tak menyukai sifat wanita yang terlalu berlebihan. Jangan berfikir
Arif maho, dia hanya tak menyukai wanita yang agresif.
“Yaudah yuk balik,” ajak Dedy.
Mereka serempak untuk pulang ke rumah masing-masing.
**
Asap yang menyebar membuat malam
menjadi sesak. Fadhil yang mempunyai penyakit asma, dengan cepat memakai masker
dan menutup semua jendela di kamarnya. Meringkuk ke atas kasur, membenamkan
diri di antara selimut yang hangat dan berkelana ke dunia mimpi.
“Hari yang melelahkan, lelah batin.
Segitu bencinya Millen sama gue sampe ga mau ngeladenin omongan gue. Apa masih
ada celah di hatinya buat gue?” Gumam Fadhil memikirkan kejadian di sekolah
tadi.
Line! Line! Line!
Line!
Suara ringtone line di handphone
Fadhil berbunyi. Dengan malas, Fadhil berdiri mengambil handphone yang terletak
di meja belajarnya.
“Tumben grup kelas rame, biasanya
sepi,” batin Fadhil sembari membuka lockscreen handphonenya. Mata Fadhil
terbelalak saat membaca satu persatu pesan yang masuk, hatinya seketika
berbunga-bunga, dia merasa melayang ke angkasa.
Millen : Entah mengapa
ada secuil perasaan kagum terhadap Fadhil. Aku tak tau ini perasaan apa, yang
jelas aku tak ingin kehilangan Fadhil.
Pesan Millen yang satu itu
berlari-lari di pikiran Fadhil, bahkan ia tak berhenti tersenyum. Fadhil
mengabaikan pesan-pesan lainnya yang masuk, baginya pesan-pesan itu sudah tak
penting lagi. Ia tak sabar menunggu pagi dan bertemu dengan Millen.
**
Asap belum juga menipis, bahkan
pagi yang indah harus ditutupi asap yang tebal sehingga keindahannya tak
terlihat. Berbeda dengan Fadhil, kali ini dia seperti melihat keindahan pagi
yang tersembunyi di balik asap. Senyuman yang ia sunggingkan tak pernah lenyap
dari wajahnya.
“Fadhil! Lo udah belajar belum?
Nanti ulangan fisika,” ucap Dedy panik. Ya, panik karena susah mencari celah
untuk menyontek pada pelajaran yang satu ini. Guru fisikanya seperti memiliki
seribu mata, keren ‘kan? Setidaknya tidak memiliki seribu telinga, jadi para
siswa masih bisa berbisik-bisik.
“Demi apa? Gue belum ada belajar
sama sekali, pokoknya lo harus bantuin gue titik ga pake koma,” tegas Fadhil.
Namun, Dedy hanya terkekeh mendengar ucapan Fadhil barusan, “emangnya ada yang
lucu, Ded?” tanya Fadhil.
“Titik ga pake koma, jaman SD
banget Dil. Hahaha” tawa Dedy mebahana sampai seluruh penghuni kelas menoleh ke
arahnya, “Lo minta bantuan sama Millen noh, kan lo duduknya deket dia,” saran
Dedy. Fadhil langsung teringat pesan Millen yang dikirimkannya di grup kelas,
tanpa sadar Fadhil mulai tersenyum sendiri. Gila memang nih anak, iya gila
karena cinta.
“Millen!” teriak Fadhil memanggil
Millen yang sedang bergosip ria dengan teman-temannya. Millen menoleh,
ditatapnya Fadhil dengan tatapan sinisnya seolah Fadhil adalah musuh
terbesarnya, “bagi-bagi ya nanti,” ucap Fadhil sambil cengengesan tak jelas.
“Apa? Lo manggil gue cuma buat
ngomong itu? Buang-buang waktu gue aja. Bagi-bagi apaan sih emangnya?” Tanya
Millen.
“Bagi-bagi jawaban fisika nanti,”
ujar Fadhil. Millen terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Fadhil barusan.
“Bagi-bagi jawaban? Enak banget
hidup lo. Mau gue ketekin?” suara cempreng khas Millen mulai keluar. Semua
orang yang ada di dalam kelas tertawa sedangkan Fadhil hanya tersenyum kikuk.
“Mil, kan semalem lo nyatain
perasaan ke dia lewat grup kelas,” teriak Adit lantang.
“Heh! Semalam itu handphone gue di
bajak Nanda. Itu bukan gue yang ngirim, gue juga udah bilang semalem,” jawab
Millen meluruskan pemahaman Fadhil yang bengkok. Bagai di tusuk berjuta-juta
tusuk sate, hati Fadhil sangat sakit. Yang jelas sekarang Fadhil ingin berlari menjauh
dari siapapun, tak peduli dengan teriakan para penghuni kelas. Ternyata
menyembunyikan luka sangatlah susah.
~Bersambung~
0 komentar:
Posting Komentar