Kamis, 21 Januari 2016

Aku Padamu Millen

Kata orang cinta itu buta. Tak peduli kasta, kedudukan, keturunan, bentuk wajah ataupun berat badan. Yang penting cinta, pasti akan bersama. Fadhil, seorang cowok yang memiliki tubuh gemuk harus menerima sakitnya patah hati di awal ia mulai merasakan cinta.
**
Ya Tuhan, jadikanlah dia jodohku. Walaupun aku harus menerima sakit di awal, itu tak masalah. Bukannya kata Bang Haji Rhoma Irama “Bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian”?
-Fadhil
Demi apa gue ditembak sama gajah sumatera? Cewek secantik gue kurang layak kalau harus pacaran sama  gajah sumatera.

-Millen
**

Siang ini udara terasa sangat panas karena musim kemarau, belum lagi pembakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah menyebabkan suhu udara bertambah panas. Fadhil duduk di pinggir lapangan basket dengan dua plastik es teh di tangannya. Cowok itu terus memperhatikan seseorang  yang tengah memantul-mantulkan bola basket. Tanpa ia sadari, es yang ada di tangan kanannya sudah habis namun rasa hausnya belum juga sirna. Ia memperhatikan es yang masih utuh di tangan kirinya. Sebagian dari dirinya menyuruhnya untuk meminum es itu supaya dahaganya hilang, namun sebagian lagi melarang karena itu bukan miliknya.
“Fadhil, lo ngapain ngeliatin es teh ga kedip-kedip? Gue tau kok lo jomblo,” ucap Dedy yang baru saja duduk di sebelah Fadhil.
“Lah, terus hubungannya es teh sama jomblo apaan? Sumpah Ded, gue susah ngertiin omongan lo,” kata Fadhil sambil mengusap keringat di keningnya.
“Kalo jomblo ga ada yang diperhatiin, jadinya gara-gara itu lo merhatiin es teh.” Ujar Dedy cengengesan.
Dedy adalah salah satu teman setia Fadhil. Jika ia berbicara, dijamin tidak akan ada yang mengerti kecuali emak dan bapaknya. Jadi, kalau ingin berbicara dengannya harus menyiapkan translator dahulu. Fadhil meninju lengan Dedy dengan sisa tenaga yang ia miliki, sepertinya panas membuat tenaganya sedikit demi sedikit berkurang.
“Eh, lo ninju atau nyolek sih? Lo kira gue sabun apa pake dicolek-colek?” Ucap Dedy dengan nada sewot. Arif yang tadi sedang memantul-mantulkan bola basket, berjalan ke arah Fadhil dan Dedy yang sedang beradu argumen.
“Dil, mana es gue? Haus nih,” ucap Arif sambil mengelus lehernya. Fadhil menyerahkan es yang masih utuh dengan setengah ikhlas dan tanpa basa-basi Arif meminumnya hingga habis. Fadhil menatapnya tak percaya, bagaimana seorang Arif yang terkenal cool bisa menghabiskan es teh dalam satu tenggukan. Oke ini memang tak ada hubungannya, maafkan Fadhil yang terlalu lebay.
Seorang gadis cantik dengan tubuh seperti model datang menghampiri tiga cowok yang sedang bersantai layaknya di pantai. Ah, sepertinya lebih tepat jika gadis itu hanya menghampiri Arif.
“Arif, lo tadi keren banget waktu mantul-mantulin bola. Gue sampe ga kuat liatnya,” ucap gadis itu histeris sambil memukul-mukul lengan Arif dengan gemas. Arif yang melihatnya hanya tersenyum canggung.
“Millen, lo alay banget sih. Baru juga liat yang begituan,” ucap Fadhil sinis, ada nada tidak suka dalam kalimat itu. Memang sudah sejak lama Fadhil menyukai Millen, namun apalah daya Millen yang tak pernah peka dengan perasaan Fadhil.
“Begituan? Haha gue ambigu,” tawa Dedy mencairkan suasana yang sempat membeku karena ucapan Fadhil. Arif memberi satu jitakan di kepala Dedy, “apaan sih lo Rif? Mau gue kasih ini?” protes Dedy sambil menunjukkan kepalan tangannya.
“Udah deh, gue males ngeladenin gajah sumatera yang satu ini. Gue pergi dulu ya,” ucap Millen sembari melambaikan tangan ke arah mereka bertiga. Arif menghembuskan napasnya lega, Arif sangat tak menyukai sifat wanita yang terlalu berlebihan. Jangan berfikir Arif maho, dia hanya tak menyukai wanita yang agresif.
“Yaudah yuk balik,” ajak Dedy. Mereka serempak untuk pulang ke rumah masing-masing.
**
Asap yang menyebar membuat malam menjadi sesak. Fadhil yang mempunyai penyakit asma, dengan cepat memakai masker dan menutup semua jendela di kamarnya. Meringkuk ke atas kasur, membenamkan diri di antara selimut yang hangat dan berkelana ke dunia mimpi.
“Hari yang melelahkan, lelah batin. Segitu bencinya Millen sama gue sampe ga mau ngeladenin omongan gue. Apa masih ada celah di hatinya buat gue?” Gumam Fadhil memikirkan kejadian di sekolah tadi.
Line! Line! Line! Line!
Suara ringtone line di handphone Fadhil berbunyi. Dengan malas, Fadhil berdiri mengambil handphone yang terletak di meja belajarnya.
“Tumben grup kelas rame, biasanya sepi,” batin Fadhil sembari membuka lockscreen handphonenya. Mata Fadhil terbelalak saat membaca satu persatu pesan yang masuk, hatinya seketika berbunga-bunga, dia merasa melayang ke angkasa.
Millen : Entah mengapa ada secuil perasaan kagum terhadap Fadhil. Aku tak tau ini perasaan apa, yang jelas aku tak ingin kehilangan Fadhil.
Pesan Millen yang satu itu berlari-lari di pikiran Fadhil, bahkan ia tak berhenti tersenyum. Fadhil mengabaikan pesan-pesan lainnya yang masuk, baginya pesan-pesan itu sudah tak penting lagi. Ia tak sabar menunggu pagi dan bertemu dengan Millen.
**
Asap belum juga menipis, bahkan pagi yang indah harus ditutupi asap yang tebal sehingga keindahannya tak terlihat. Berbeda dengan Fadhil, kali ini dia seperti melihat keindahan pagi yang tersembunyi di balik asap. Senyuman yang ia sunggingkan tak pernah lenyap dari wajahnya.
“Fadhil! Lo udah belajar belum? Nanti ulangan fisika,” ucap Dedy panik. Ya, panik karena susah mencari celah untuk menyontek pada pelajaran yang satu ini. Guru fisikanya seperti memiliki seribu mata, keren ‘kan? Setidaknya tidak memiliki seribu telinga, jadi para siswa masih bisa berbisik-bisik.
“Demi apa? Gue belum ada belajar sama sekali, pokoknya lo harus bantuin gue titik ga pake koma,” tegas Fadhil. Namun, Dedy hanya terkekeh mendengar ucapan Fadhil barusan, “emangnya ada yang lucu, Ded?” tanya Fadhil.
“Titik ga pake koma, jaman SD banget Dil. Hahaha” tawa Dedy mebahana sampai seluruh penghuni kelas menoleh ke arahnya, “Lo minta bantuan sama Millen noh, kan lo duduknya deket dia,” saran Dedy. Fadhil langsung teringat pesan Millen yang dikirimkannya di grup kelas, tanpa sadar Fadhil mulai tersenyum sendiri. Gila memang nih anak, iya gila karena cinta.
“Millen!” teriak Fadhil memanggil Millen yang sedang bergosip ria dengan teman-temannya. Millen menoleh, ditatapnya Fadhil dengan tatapan sinisnya seolah Fadhil adalah musuh terbesarnya, “bagi-bagi ya nanti,” ucap Fadhil sambil cengengesan tak jelas.
“Apa? Lo manggil gue cuma buat ngomong itu? Buang-buang waktu gue aja. Bagi-bagi apaan sih emangnya?” Tanya Millen.
“Bagi-bagi jawaban fisika nanti,” ujar Fadhil. Millen terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Fadhil barusan.
“Bagi-bagi jawaban? Enak banget hidup lo. Mau gue ketekin?” suara cempreng khas Millen mulai keluar. Semua orang yang ada di dalam kelas tertawa sedangkan Fadhil hanya tersenyum kikuk.
“Mil, kan semalem lo nyatain perasaan ke dia lewat grup kelas,” teriak Adit lantang.
“Heh! Semalam itu handphone gue di bajak Nanda. Itu bukan gue yang ngirim, gue juga udah bilang semalem,” jawab Millen meluruskan pemahaman Fadhil yang bengkok. Bagai di tusuk berjuta-juta tusuk sate, hati Fadhil sangat sakit. Yang jelas sekarang Fadhil ingin berlari menjauh dari siapapun, tak peduli dengan teriakan para penghuni kelas. Ternyata menyembunyikan luka sangatlah susah.


~Bersambung~

0 komentar:

Posting Komentar