Maaf, sebuah kata yang sulit diucapkan oleh orang egois. Namun, mudah diucapkan bagi orang ingkar. Maaf sendiri sebenarnya adalah obat dari luka hati. Luka itu akan segera sembuh jika kita bisa memaafkan masa lalu. Seburuk apapun masa lalu itu, maaf akan menghapuskannya.
Arisa menghela napas panjang. Belum genap sehari dia di sekolah, dia sudah harus bermasalah dengan Fadhil. Walaupun ini murni bukan kesalahannya, tapi saat kejadian ia sedang bersama dengan Fadhil. Bahkan sekarang ia tak mengetahui dimana Fadhil berada.
“Hai Ris. Gimana sekolah lo?” Tanya Adit. Aroma parfum yang Adit kenakan sangat menyengat indera penciuman Arisa sehingga membuat Arisa menutup hidung. “Lo kenapa? Mulut gue bau? Atau ketek gue yang bau?” Adit mencium ketiaknya sendiri namun ia tak merasakan ada yang aneh.
“Kamu wangi banget, pasti mau ketemuan sama pacar ya?” tebak Arisa.
“No, gue ga punya pacar. Gue cuma mau jenguk Fadhil di rumah sakit” jawab Adit apa adanya. Arisa tersentak saat mendengar nama Fadhil. Ternyata karena kejadian tadi, Fadhil sampai dirawat di rumah sakit.
“Aku ikutan dong” bujuk Arisa.
“Emangnya kenal?” Tanya Adit memastikan. Arisa tersenyum sembari mengangguk pasti.
***
Suasana hening menyelimuti ruangan Fadhil. Semua yang berada di ruangan itu sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Namun berbeda dengan Dedy yang tak memiliki pikiran, ia hanya bisa diam menatap Millen dan Fadhil secara bergantian.
“Ehem, gue bosen. Kenapa kalian pada diem-dieman sih?” ucap Dedy memecah keheningan.
“Lo juga kenapa diem? Biasanya juga cerewet kayak emak-emak kehilangan jemuran” ujar Fadhil sekenanya.
Millen yang mendengar pembicaraan mereka berdua hanya bisa menghembuskan napasnya keras. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara menghapus foto aibnya dari handphone Dedy. Ini sangat menyulitkan bahkan lebih sulit daripada teka-teki silang mingguan. Millen menghela napas panjang dan beranjak dari duduknya.
“Gue mau balik, get well soon Fadhil” ucap Millen tanpa ekspresi. Satu kalimat yang berhasil membuat beribu kupu-kupu berterbangan di perut Fadhil. Bahkan bunga-bunga di hatinya yang sudah mulai layu, kini mekar kembali.
Krek!
Suara pintu terbuka menampilkan sesosok lelaki botak dengan sekresek jeruk di tangannya. Tak lupa seorang gadis di belakangnya. Walaupun gadis itu menunduk, Fadhil dapat menerka siapa gadis itu. Arisa, mengapa gadis itu bisa bersama Adit? Apa mereka saling kenal? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menari-nari di kepala Fadhil.
“Mil, lo udah mau balik?” tanya Adit menyelidik. Millen tak mengacuhkan Adit dan memilih untuk keluar dari ruangan itu.
“Oh, ternyata ini alasan Adit ga nembak Maria” Dedy mengerlingkan matanya ke arah Adit. Cowok berambut tipis itu tak menghiraukan pernyataan Dedy dan memilih untuk meletakkan jeruk yang dibawanya ke nakas di samping tempat tidur Fadhil. “Gue ga jualan kacang ya Dit,” sambung Dedy.
Adit mendengus, “Siapa yang bilang kalau lo jualan kacang?”
“Tapi tadi lo ngacangin gue” Dedy bangkit dari kursinya dan menoyor kepala Adit.
“Di sini ada bule. Warga Indonesia dikenal sebagai orang yang ramah. Kalian jangan mencoreng nama baik Indonesia dong,” sebelum terjadi perang dunia ketiga, Fadhil melerai Dedy dan Adit. Arisa yang sedari tadi memperhatikan mereka, hanya tersenyum kikuk.
“Hmm, Hai Fadhil. Get well really soon ya, aku tadi surprised banget waktu liat kamu tiba-tiba sesak napas.” Ucap Arisa.
“Ini bukan salah lo, cuacanya aja yang lagi dingin” elak Fadhil. Sesungguhnya ia tak ingin membuat gadis yang baru dikenalnya merasa bersalah karena penyakit keturunan yang dideritanya.
“Kalian udah saling kenal? Padahal gue belum kenalan sama nih bule. Kenalin, nama gue Dedy cowok ter-wow di sekolah” ujar Dedy dengan percaya diri. Arisa hanya memasang wajah cengo mendengar pengakuan Dedy barusan.
“Hai Dedy, my name is Arisa. Nice to meet you” Arisa tersenyum kepada Dedy memperlihatkan deretan giginya yang rata.
**
Seminggu sejak kepulangan Fadhil dari rumah sakit, ia menjadi semakin dekat dengan Millen. Kedekatan mereka tak seperti kedekatan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara pada umumnya. Kedekatan mereka terjalin karena adanya paksaan yang dilancarkan Dedy kepada MIllen.
Millen duduk di kursinya, menatap nanar sekeliling kelas yang sangat ramai. Semua teman sekelasnya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Fadhil. Bahkan ada yang tak segan-segan meminta traktir.
“Millen, lo ga ngucapin happy birthday ke gue?” tanya Fadhil dengan antusias. MIllen melirik ke arah Dedy yang sedang tersenyum kepadanya. Senyuman yang sangat sulit diartikan bagi seorang wanita yang memiliki otak dangkal macam Millen.
“Happy Birthday Fadhil Maulana” satu kata yang meluncur dari bibir mungil Millen membuat Fadhil tak bisa menahan senyum. Ini seperti fenomena yang sangat langka, Fadhil bahkan lupa mengabadikannya.
“Mil, bisa diulang ga? Gue mau rekam nih” ucap Fadhil sambil mengeluarkan ponsel dari dalam kantongnya. Millen sempat melirik ke arah Dedy yang masih setia menonton dirinya dan Fadhil sedang bercengkerama.
Dengan terpaksa, Millen mengulangi kata-katanya barusan. Namun, untuk kesekian kalinya Fadhil meminta adegan itu diulang hanya karena pencahayaan yang ia dapatkan di dalam kelas membuat wajah Millen nampak hitam.
“Nah, sekarang kita udah di luar nih. Ayo ulang kata-kata yang tadi” kata Fadhil dengan riang. Namun, tanpa sengaja mata Millen menangkap sosok yang sangat dikenalinya sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Arif, ya lelaki yang sangat dipuja oleh Millen sedang bernyanyi bersama seorang wanita di bawah pohon.
“Mil, buruan dong kamera handphone gue udah siap dari tadi” perkataan Fadhil sama sekali tak digubris oleh Millen. Matanya masih tertuju pada objek di bawah pohon tersebut. Matanya memanas dan tanpa sadar air matanya meluruh mengalirkan segala emosi yang ada di hatinya. “Mil, lo kenapa? Kok nangis?” lagi dan lagi perkataan Fadhil hanya seperti angin lalu bagi Millen.
“Gue muak!” Teriak Millen dengan lantang. “Gue muak sama semua ini, seharusnya yang ada di samping gue sekarang bukan lo, tapi Arif” amarah Millen mulai meledak menghancurkan berbagai tebing yang selama ini sudah dibangunnya dengan susah payah. Millen berlari menghampiri Arif yang sedang asyik bermain gitar.
“Rif, dia siapa? Kenapa kalian berdua-duaan di bawah pohon?” Tanya Millen dengan suara serak. Wanita yang duduk di sebelah Arif segera berdiri untuk mensejajarkan pandangannya dengan Millen. Ia menatap Millen dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
“Lo belum tau gue? hmm padahal gue calon cewek populer yang bakal ngalahin kepopuler-an lo di sekolah ini. Kenalin nama gue Princess Eka” ucap wanita bernama Eka. Millen sama sekali tak merespon ucapan Eka barusan.
“Eka, ayo kita masuk kelas. Di sini panas banget” ajak Arif.
“Rif, lo belum jawab pertanyaan gue!” teriak Millen dengan suaranya yang cempreng namun sedikit serak karena menahan tangis. Arif tak merespon perkataan Millen dan memilih untuk masuk ke dalam kelasnya.
“Mil, lo ga perlu bersikap begitu. Untuk apa lo mengharapkan bintang jatuh kalo masih ada satu bintang yaitu matahari yang selalu menemani hari-hari lo. Liat di sini ada matahari, dia sudah pasti akan terbit setiap hari, walaupun ada mendung cahayanya pasti akan selalu menemani.” ucap Fadhil. Melihat Millen seperti ini membuat hati Fadhil seperti di remas.
“Diem lo gendut! Gue ga butuh saran dari lo” ucap Millen dengan ketus.
“Lo masih ngarepin Arif yang jelas-jelas udah nolak kehadiran lo? Hei, gue kasih tau ya pertama Arif ga suka cewek alay apalagi agresif kayak lo. Kedua, Arif sudah pacaran sama Eka dan yang ketiga Arif ga akan suka sama cewek yang disukai sahabatnya sendiri. Gue sayang sama lo Millennia” Fadhil mengguncang bahu Millen. Namun, Millen malah menghempaskan tangan Fadhil.
“Lo ga denger? Gue bilang diem! Pertama, gue suka sama Arif. Kedua, gue bakal nungguin Arif sampai dia putus dan yang ketiga gue selama ini baik sama lo karena ancaman dari Dedy bukan karena gue suka sama lo. Demi apapun gue ga bakal pernah mau pacaran sama gajah sumatera macam lo” Millen segera berlari meninggalkan Fadhil dengan hati yang pecah. Kenyataan macam apa ini? Mengapa begitu menyakitkan untuk Fadhil?
~Bersambung~
Apa yang akan dilakukan Fadhil setelah mengetahui bahwa kedekatannya dengan Millen selama ini karena ancaman dari Dedy?
0 komentar:
Posting Komentar