Minggu, 07 Februari 2016

Aku Padamu Millen-4 END

Arisa membawa bungkusan kecil berisi coklat untuk Fadhil. Batinnya berkecambuk, ia takut Fadhil tak menyukai coklat buatan tangannya terlebih ini baru pertama kali Arisa membuat coklat sendiri. “Happy Birthday Fadhil, wish you all the best” kalimat itu terus dirapalkan Arisa di sepanjang koridor sekolah. Ia tak ingin suaranya terdengar bergetar karena gugup.
Bruk!
Millen berlari sangat cepat sehingga ia sampai menabrak tiang yang berada tepat di samping Arisa. Arisa yang kaget hampir saja menjatuhkan coklat yang dibawanya.
“Aduh kepala gue sakit banget. Udah hati sakit, kepala malah ikut-ikutan sakit” oceh Millen. Rasa sakit di hatinya sudah cukup membuat ia menderita dan sekarang harus ditambah rasa sakit  di keningnya.
Arisa menghampiri Millen yang sedang meringis kesakitan, “Kamu ga kenapa-kenapa kan? sini aku bantu” ucap Arisa sambil mengulurkan tangannya. Tanpa segan Millen menggenggam tangan Arisa supaya dia lebih mudah untuk berdiri. “Kamu nangis? Kenapa? Cerita saja kepadaku, aku takkan membeberkannya ke orang lain”
“Cowok yang gue suka ternyata udah punya pacar” mengingat hal itu justru membuat Millen semakin terisak. Arisa mencoba menenangkan Millen dengan mengelus pundak gadis cantik itu.
“Sudah dong, hanya karena itu saja kamu menangis. Lihat lagi sekelilingmu, kamu tidak memerlukan orang yang menyia-nyiakanmu. Yang kamu butuhkan hanya orang yang peduli terhadapmu. Jangan habiskan waktumu untuk menunggu sesuatu yang belum tentu baik untukmu. Ingat hidup di dunia hanya sekali” jelas Arisa. Millen berpikir sejenak sebelum akhirnya ia berpamitan untuk ke toilet.
**
Fadhil berjalan ke kelasnya untuk menghampiri Dedy. Ia ingin mendengar penjelasan dari Dedy secara langsung. Berharap menemukan titik terang dari masalah yang sedang dihadapinya karena sesungguhnya bukan hanya Millen yang bersalah dalam menyakiti hatinya.
Buk!
Satu tinjuan berhasil mendarat mulus di pipi Dedy. Dedy yang tadi asyik bermain handphone nampak terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Fadhil.
“Lo apa-apaan sih?” Tanya Dedy sambil memegangi pipi sebelah kanannya yang terlihat memar.
“Seharusnya gue yang ngomong gitu ke lo” jawab Fadhil. Tangannya hendak meninju pipi Dedy lagi jika saja tidak di tahan oleh Maria.
“Kalian kalo mau main pukul-pukulan jangan di sini. Kalo ketahuan guru kalian bisa dapat poin” cegah Maria, “Dhil, mending lo pulang deh. Gue yakin lo ga bakal konsentrasi kalo belajar” Maria menyerahkan tas milik Fadhil. Tanpa membuang waktu, Fadhil segera keluar dari kelas itu.
“Fadhil kenapa lagi? Pasti ini gara-gara Millen. Sok cantik banget sih, ga laku baru tau rasa” omel Adit. Dia tak habis pikir Millen bisa memporakporandakan hati Fadhil dalam waktu yang singkat. Apalagi ini baru pertama kalinya Fadhil merasakan yang namanya suka terhadap lawan jenis.
“Iya, gue juga muak liat gayanya yang sok kecantikan” timpal Maria.
“Sudahlah, ini semua salah gue. Gue yang minta Millen buat deketin Fadhil, gue pikir dengan cara begitu nanti Millen bakalan luluh sama Fadhil. Nyatanya gue salah, Millen ga pantas buat Fadhil.” lirih Dedy. Ada nada penyesalan di setiap kalimatnya. Harusnya dari awal ia tak memaksa Millen, jika tau akhirnya begini.
**
Fadhil berjalan keluar kelas dengan hati yang remuk. Ia tak tau apa yang akan ia lakukan setelah ini yang pasti ia tak ingin menangis lagi hanya karena wanita seperti Millen. Tapi ia juga tak tau bagaimana caranya menahan air mata dengan benar.
“Fadhil, Happy Birthday ya. Wish you all the best and semoga semua keinginan kamu akan tercapai di usiamu yang ke tujuh belas ini” ucap Arisa sambil memeluk Fadhil dengan erat seolah tak ingin kehilangan. Fadhil tak membalas pelukan Arisa yang terkesan agresif, entah setan mana yang merasuki Arisa sehingga sifat kalem yang selama ini Fadhil lihat jadi hilang.
“Lo ngapain sih pake peluk-peluk. Gue bukan baymax yang suka meluk orang” Fadhil berusaha melepas pelukan Arisa. Dengan perlahan Arisa melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Fadhil.
“Sorry, oh iya aku punya coklat buat kamu. Ini aku buat sendiri loh” Arisa menyodorkan kotak kecil dengan pita berwarna biru di atasnya.
“Thanks, tapi gue trauma sama yang manis-manis. Untuk apa manis kalo akhirnya gue juga harus ngerasain pahit dan lain kali jangan asal meluk-meluk gue karena gue ga suka dipeluk” Fadhil melanjutkan perjalanannya tanpa menerima coklat dari Arisa.
“Tapi Dhil, kamu harus terima ini. Terserah mau kamu makan atau ga yang jelas jangan pernah buang coklat ini” merasa coklat buatannya ditolak, Arisa menangis. Fadhil menerima coklat itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Oke gue terima. Tapi, gue curiga sama lo. Jangan-jangan lo disuruh juga sama Dedy buat deketin gue. Cukup ya gue sekarang ga bisa ditipu” ketus Fadhil. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh ke arah Arisa.
Sesampainya di rumah, Fadhil langsung sholat untuk menenangkan hatinya. Berharap Allah akan memberi petunjuk atas masalah yang sudah menimpanya. Selesai sholat ia lebih memilih untuk bermain game hingga larut malam. Fadhil sama sekali tak ingin memikirkan apapun yang telah terjadi hari ini di sekolah termasuk Millen, ia ingin melupakan segala perasaannya terhadap Millen. Ia ingin hidupnya seperti dulu, sebelum ia mengenal Millen dan patah hati.
“Fadhil, temen kamu nelpon nih. Katanya handphone kamu ga bisa dihubungi” teriak mama Fadhil dari ruang keluarga. Fadhil menghampiri mamanya dan mulai berbicara di telepon.
“Halo, siapa ya? Gue lagi sibuk nih, lo bisa ngomong besok aja di sekolah.” ucap Fadhil.
“Eh Dhil, tunggu dulu. Gue mau minta maaf sama lo, sumpah demi apapun gue ga bermaksud bikin lo patah hati. Gue bakal jelasin semua” kata orang di seberang telepon.
“Gue udah maafin lo kok Ded, gue juga minta maaf karena tadi udah ninju lo. Gue cuma kebawa emosi. Sekarang gue sadar kalo Millen emang bukan untuk gue” lirih Fadhil, air bening itu hendak meluncur dari mata Fadhil, namun segera disapu begitu saja.
“Baguslah, gimana kalau besok sore kita jalan-jalan ke taman. Siapa tau lo bisa ketemu cewek yang lebih dari Millen” ajak Dedy.
“Gue ga mau mikirin cewek dulu Ded, besok gue harus minta maaf sama Arisa karena tadi gue juga marah-marah sama dia” Fadhil tersenyum saat mengingat Arisa. Gadis itu tak mengerti apa-apa tentang masalahnya namun ia juga harus merasakan efeknya. Berbicara tentang Arisa, FAdhil jadi teringat coklat yang tadi diterimanya di sekolah. Fadhil segera berlari menuju kamarnya dan membuka kotak yang tadi diberikan Arisa. Di dalamnya ada coklat dan sebuah kertas.
Happy Birthday Fadhil. Entah mengapa di awal kita berjumpa aku sudah sangat yakin kalau kau adalah pria baik. Aku tidak akan menuntutmu untuk selalu berada di dekatku, karena aku sadar kalau kau sedang berusaha mengambil hati seorang gadis. Semoga kau berhasil mengambil hatinya semangat. Aku yakin jika Tuhan mengizinkan kita untuk bersama suatu saat pasti kita akan bersama. Namun, jika Tuhan tak mengizinkan, aku akan menerimanya.
Kadang, saat Adit (sepupuku) bercerita tentangmu, tentang perjuanganmu, tentang sakit hatimu, tentang besarnya rasa sayangmu kepada gadis yang bernama Millen aku merasa sedih. Kau sudah berkali-kali ditolak kehadirannya namun kau tetap berusaha. Aku kagum dengan kegigihanmu, betapa beruntungnya gadis itu. Tapi, cobalah sekali untuk melihat sekelilingmu masih banyak yang peduli dan sayang sama kamu termasuk aku. Jangan hanya terfokus pada satu orang.
Mungkin aku baru mengenalmu, tapi aku sudah tau tentang kisahmu di sekolah dari Adit. Aku tau kalau kau sering melamun saat pelajaran Math, aku tau kau sering tidur saat pelajaran Agama Islam, aku juga tau kau tak suka mencatat. Apa aku pantas untuk menjadi pengganti Millen di hatimu? Apa aku pantas untuk kau perjuangkan? Sepertinya tidak. Jika satu bintang tak dapat kau gapai, masih ada berjuta bintang yang siap menemanimu. Arisa sayang Fadhil.
Terima kasih sudah membaca suratku.
With Love Arisa
Fadhil tersenyum saat selesai membaca surat dari Arisa. Ya, seharusnya ia bisa melihat di sekelilingnya, bukan hanya terfokus pada satu orang yang jelas-jelas menolak kehadirannya. Fadhil jadi merasa bersalah karena tadi telah bersikap buruk terhadap Arisa.
**
Pagi-pagi sekali, Fadhil sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dengan surat balasan yang sudah ia siapkan semalam untuk Arisa. Rasa gugup mulai menggerogoti dirinya, dengan sekali tarikan napas ia meyakinkan dirinya sendiri. Arisa tidak seperti Millen yang menolak kehadirannya. Arisa tulus dan tidak ingin menyakiti hati orang lain. Arisa pasti bisa menjadi pelita untuk Fadhil.
“Fadhil!” teriak Millen dari ujung koridor. Fadhil mendengus kesal, untuk apa gadis itu memanggilnya? Bukankah ia sudah tak membutuhkan Fadhil lagi. “Dhil, lo ga ke rumah Arisa? Semalam Adit ngasih tau gue kalau Arisa kecelakaan dan meninggal di tempat. Adit udah coba nelpon lo, tapi ga diangkat” jelas Millen. Fadhil terkejut saat mendengar penjelasan Millen, bahkan surat yang tadi di bawanya terjatuh. Tanpa menunggu lama, Fadhil segera berlari menuju rumah Arisa meninggalkan Millen yang masih mematung.
Millen tersenyum haru melihat kertas yang tadi terjatuh dari tangan Fadhil, ia memungut dan membukanya dengan perlahan.
Dear Arisa,
Gue minta maaf soal yang tadi. Tanpa sadar tadi gue bentak-bentak lo dan ngomong kasar. Gue seneng kok lo hadir di kehidupan gue. Gue sadar selama ini gue selalu terfokus ke satu orang yaitu Millen yang jelas-jelas ga pernah menginginkan kehadiran gue di dekatnya. Sekarang, gue bakal mencoba untuk move on dari Millen dan mencoba untuk mendekat ke lo. Gue bukan cowok baik, tapi gue akan berusaha menjadi lebih baik. Gue ini cowok bego yang ga menyadari kehadiran lo dan lo ga pantes dapat cowok bego kayak gue. Untuk saat ini gue belum bisa bilang sayang ke lo, tapi suatu saat gue pasti akan bilang itu langsung ke lo. Thanks udah bikin gue sadar.
Fadhil
Kata-kata sederhana yang mewakili berjuta-juta perasaan yang dirasakan Fadhil. Tanpa bisa dicegah bulir-bulir bening jatuh dari mata sipit Millen. Ia menyesal pernah bersikap buruk terhadap Fadhil. Seharusnya, jika ia tak menginginkan Fadhil di dekatnya, ia tak perlu bersikap buruk seperti selama ini.
“Fadhil, gue yakin lo bakal nemuin orang kayak Arisa suatu saat nanti” ucap Millen.

0 komentar:

Posting Komentar